Batas Waktu

Hai apa kabar kamu?
Sudah seberapa banyak ilmumu?
Sudah seberapa bermanfaat dirimu?
Sudah seberapa tawadhu hatimu?
Sudahkah memanfaatkan waktu luangmu untuk semakin banyak kebaikan tercipta darimu?

Sudah seberapa dekat engkau Dengan-Nya?
Sudah seberapa banyak kau Mengingat-Nya ?
Sudah seberapa dalam kau mencintai-Nya?
Sudahkah niatmu dalam beramal hanya Untuk-Nya?

Apakah pena yang kau gunakan, telah menuliskan kebenaran dan kebaikan untuk agama-Nya?
Apakah kata yang terapalkan dari lisanmu adalah seruan amar ma’ruf wa nahi mungkar?

Apakah dzikir telah menghiasi lisan dan hati pada tiap detak denyut nadimu?
Apakah dalam setiap zeptodetikmu tentang takdir, telah kau gantungkan harapanmu hanya Pada-Nya semata?

Itulah kenapa satuan waktu punya batas…
Batas antara malam dan siang
Batas antara jam dengan jam
Batas antara hari dengan hari
Batas antara minggu dengan minggu
Batas antara bulan dengan bulan
Batas antara tahun dengan tahun
Batas antara abad dengan abad
Batas antara hidup dan mati

Benar, nasihat tentang kematian adalah motivasi terbaik dalam hidup ini…
Maka, sudah siapkan apa untuk batas kehidupan dunia yang begitu amat singkat ini?
Menuju kehidupan akhirat yang Abadi…

Gerbong kereta api
Tebet-Duri
17 Muharram 1439 H

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ikhlas

Kenapa kita harus punya hati seluas samudera? Agar kita paham, bahwa hidup memang untuk mengikhlaskan banyak hal.
Berlayar, menepi, pergi, kembali, dan apapun dalam hidup ini adalah hal yang mungkin bisa terjadi.

Sudahkah kita belajar mengikhlaskan banyak hal dalam hidup ini? Karena sejatinya hidup ini bukan untuk siapa-siapa. Tapi, hanya Untuk-Nya…

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Adab dan Ilmu

Kau tahu Di, seseorang yang berilmu ialah orang yang paling tawadhu dalam hidupnya. Semakin Ia mengetahui banyak hal, semakin ilmunya tinggi, semakin banyak yang ia lakukan, semakin banyak karyanya, ia semakin tak ingin dilihat orang, tak ingin dipuji orang, tak ingin diketahui banyak orang. Ia lebih memilih terus berbuat, bekerja dalam diam.

Belajarlah dari para Nabi, para sahabat, para salafus shalih, para ulama yang amat tawadhu hidupnya. Tujuan mereka dalam hidup ini hanya satu, yaitu hanya mengharap Ridho-Nya.

Itulah mengapa, mereka lebih suka keheningan. Lebih suka beramal dalam senyap. Lebih suka berbuat dibandingkan banyak bicara. Tak apa jika namamu tak ada yang mengenalnya. Biarlah namamu menjadi perbincangan makhluk-makhluk langit. Semoga…

Betul sekali apa yang dinasihatkan para pendahulu kita. Bahwa adab dan ilmu tidak bisa dipisahkan. Jangan hanya mengambil salah satunya, agar tidak salah jalan dan tujuan.

Maka, PRmu masih banyak wahai engkau yang katanya rindu akan ilmu. Belajarlah untuk semakin tawadhu, rendah hati dan beradab sepanjang hidupmu. Karena tidak ada yang perlu dibanggakan di hadapan makhluk-Nya. Karena kita hanya seorang hamba dari Rabb yang Maha Agung. Maka, tak pantas untuk berbangga, walau sedikit.

Biarlah mereka dengan penilaiannya. Cukuplah penilaian Allah yang menjadi motivasi terbesar dalam beramal. Semoga Allah selalu menuntun hati dan seluruh indera kita untuk beramal dengan ketawadhuan.

Tahun Baru Hijriyah, 1439 H
Masih dengan suara dan aroma hujan

Posted in Renungan | Tagged , , | Leave a comment

Allah Sebaik-baik Penolong

Kau tahu Di? Allah sebaik-baik perencana. Kita yang terlalu berlebihan. Lebay terhadap keadaan. Merasa khawatir karena sesuatu sudah terjadi atau pada sesuatu yang akan terjadi. Padahal kita tidak tahu apa-apa tentang masa depan.

Sesungguhnya, Allah hanya minta kita yakin Pada-Nya. Menyerahkan segala urusan Pada-Nya. Kemudian, lakukan ibadah terbaik, doa dan penyerahan diri total Pada-Nya.

Allah meminta kita untuk taat dan beribadah terbaik Pada-Nya. Kemudian yang paling penting adalah yakin. Yakin akan Pertolongan-Nya. Bahwa pertolongan Allah itu dekat. Jangan khawatir dan jangan takut. Lakukan ibadah terbaik. Biarkan Allah bekerja dengan Cara-Nya. Memberikan takdir terbaik pada setiap penghambaan total seorang manusia yang hanya mengharap Ridho-Nya.

Betul sekali, kadang kita lelah memikirkan banyak hal. Mengkhawatirkan takdir yang sesungguhnya hanya Allah lah yang punya kuasa. Kita hanyalah pemain dari segala skenario yang di tuliskan Allah melalui pena hingga mengering tintanya.

Maka, jangan habiskan banyak waktu untuk keluh kesah dan prasangka buruk. Isi setiap detik waktumu dengan dzikrullah. Cukuplah Allah tempat kita bersandar atas segala persoalan. Allah lah sebaik-baik penolong.

Kau tahu, Allah selalu kirim solusi terbaik saat kita menyandarkan setiap ujian dan kesulitan hidup hanya Pada-Nya.

28 Dzulhijjah 1438 Hijriyah
Malam perenungan

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Mengingat-Nya Tanpa Jeda

Karena aku bukan manusia sempurna, kemudian berazzam untuk mencintai-Nya dengan sempurna.
Karena hati adalah milik-Nya semata, mengapa masih sibuk dengan hal yang tak Diridhoi-Nya?

Taatku Pada-Nya memang tak sebanding dengan taat Para Nabi dan sahabatnya, sangat jauh. Sejauh bumi dan langit perbandingannya. Aku hanyalah seorang hamba yang sedang belajar untuk Mencintai-Nya dengan sempurna. Seorang hamba yang mengharap Ridho-Nya.

Berusaha Mengingat-Nya tanpa jeda. Pada setiap aktivitas yang memenuhi hari. Bukan karena aku tak ingin mencintai makhluk-Nya atau mencintai yang lain. Tapi, aku ingin menempatkan cinta Pada-Nya di atas cinta lain yang hadir dalam hidup ini. Agar Cinta Allah lah yang akan menjadi bingkainya.

Cinta tidaklah rumit. Tapi, kita yang membuatnya menjadi rumit. Bahwa cinta itu adalah Mengingat-Nya tanpa jeda. Ya… Mengingat Allah, seperti kita menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari alat pernafasan kita. Tanpa henti dan tanpa jeda, pertanda masih ada kehidupan yang membingkainya. Begitulah seharusnya kita sebagai hamba. Mengingat-Nya tanpa jeda…

Jangan biarkan cinta lain yang mengisi jedamu, cukuplah Allah yang selalu ada di ingatan dan hatimu.

Malam 27 Dzulhijjah 1438 Hijriyah
Ruang kotak

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Akhirat yang Abadi

Kita akan merasakan kepahitan terlebih dahulu, untuk kemudian merasakan manisnya kehidupan. Kita harus bertemu dengan kegagalan, kesedihan, kekecewaan, kegalauan, kesakitan dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya. Tapi, sesungguhnya Allah telah menyiapkan skenario terbaik untuk kita.

Kepahitan hidup dan kisah perjalanan menyakitkan seseorang adalah cara Allah untuk menempa ia menjadi hamba yang semakin dekat Dengan-Nya, kemudian menjadi pelajaran dan hikmah bagi hamba-hamba-Nya yang mau berpikir. Hanya Pada-Nya lah kita menyerahkan segala perkara. Karena sebaik-baik penolong adalah Allahu ya Rabb.

Terbaik menurut kita, belum tentu terbaik menurut Allah kan? Jadi, dalam kondisi seburuk apapun dalam hidupmu, bersyukurlah. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untukmu, maka jangan pernah ragu sedikitpun pada ketentuan takdir-Nya.

Shalat dan doa adalah cara terbaik. Obat mujarab bagi hati dan jiwamu untuk tetap kuat hadapi setiap ujian yang hadir dalam hidup.

Bersyukurlah Pada-Nya, karena sesuatu yang menyakitkan atau menyenangkan telah hadir dalam hidupmu. Menjadi pemanis dari puzzle hidup yang sesungguhnya akan disempurnakan di akhirat-Nya.

Terima kasih atas pelajaran hidup yang telah diberikan hari ini. Benar sekali nasihat orang tua dulu, bahwa hidup kita hanya untuk menyiapkan kehidupan akhirat yang abadi. Maka siapkan pembekalan terbaik, Dii! Semoga kematian yang khusnul Khotimah dan hadiah surga-Nya. Sebaik-baik tempat kembali.

Suatu malam, 27 Dzulhijjah 1438 Hijriyah
Djati

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Mengapa Bersedih?

Jangan pernah bersedih jika inginmu tak sesuai dengan ingin-Nya. Kau harus bersyukur, Allah menuntunmu untuk 2 hal. Yang pertama, kau tetap berada dalam kesabaran dan yang kedua, Allah punya skenario terbaik yang telah disiapkan.

Mengapa harus bersedih saat kehilangan sesuatu? Padahal yang perlu kita khawatirkan adalah saat Allah meninggalkan kita. Kita kehilangan kasih sayang-Nya. Na’udzubillah…

Saat karunia, petunjuk dan keberkahan-Nya tak lagi menyapa dalam hidup kita. Itu yang paling menyakitkan bukan? Itulah seburuk buruk keadaan. Semoga kita bukan orang orang yang kufur nikmat.

Jika diri kita sendiri bukanlah milik kita, maka mengapa kita harus bersedih saat kehilangan? Bukankah itu sunnatullah? Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, pun begitu dengan kehidupan, pasti diiringi dengan waktu kematian.

Maka, yang perlu kita persiapkan adalah amal amal yang bisa memberatkan kita memasuki surga-Nya. Walaupun, mungkin amalan yang kita lakukan belumlah layak memasukkan kita ke surga-Nya.

Setidaknya jadilah hamba yang terus mengharap Ridho-Nya. Jadi Sebenar-benarnya hamba. Jadi sebenarnya Khalifah fil ardh.

Tidakkah kau belajar dari kisah Rasulullah dan para sahabat yang begitu mengagumkan? Semoga Allah selalu menuntun hati yang amat lemah ini. Aamiin ya Rabb…

Pada malam, di gerbong Kereta Duri-Tangerang

26 Dzulhijjah 1438 Hijriyah

Posted in Renungan | Tagged | Leave a comment