Kejayaan Islam

Kita memang butuh waktu sendiri. Bermuhasabah atas segala pencapaian dan juga niat terdalam kita dalam beramal.

Jika saja hati kita tetap terpaut Pada-Nya, maka takkan ada yang hambar dalam setiap perjalanan. Karena kehidupan selalu ajarkan tentang makna. Dan bahwa setiap makna itu menyimpan banyak hikmah yang membuat kita semakin bertambah dewasa.

Seperti pertemuan selalu dilengkapi dengan perpisahan. Pun sama seperti kejatuhan sebuah masa selalu dilengkapi dengan kejayaan. Jatuh maka harus segera bangkit lagi.

Tidak peduli seberapa banyak kamu terjatuh, yang paling penting adalah seberapa cepat kamu bangkit lagi.

Apalagi yang membuat pertemuan dan perpisahan itu indah selain kenangannya? Pun sama, apalagi yang membuat kejatuhan dan kejayaan menjadi indah selain sejarah dan hikmah yang menjadi pelajaran bagi tiap generasi ?

Kita berkejaran dengan waktu. Maka hal yang paling layak kita ciptakan adalah kenangan kenangan kebaikan pada setiap jejak perjalanan itu. Dan itu akan menjadi catatan sejarah terpenting bagi potongan puzzle tiap insan yang dipersembahkan bagi kejayaan Islam.

Kita memang perlu belajar untuk lebih berlapang dada pada semua hal yang terjadi dalam hidup ini. Tiap tiap kita punya ujian masing masing. Pun, tiap tiap zaman punya ujiannya sendiri.

Dan, tugas kita sekarang adalah berlomba dengan waktu, perbaikan diri jangan pernah berhenti. Tingkatkan kapasitas diri. Karena boleh jadi waktu hidup yang kita punya lebih pendek dari usia tercapainya kejayaan itu.

Berharap suatu saat kita akan menjadi bagian dari kejayaan Islam yang diimpikan.

Apakah kamu sudah siap?

5 Shafar 1439 Hijriyah

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tangga Peradaban

Islam begitu indah, Islam ajarkan kita kedamaian, menghargai perbedaan. Saling toleransi atas banyak keragaman. Mengapa kita masih selalu ciptakan perang dan tuduhan?

Apakah ayat ayat Cinta-Nya tak lagi menjadi obat ampuh bagi hati hati kita yang rapuh, yang penuh dengan dendam dan nafsu? Apakah dzikirullah tak cukup membuat hati, lisan dan mata kita pilu atas segala keegoisan diri yang telah melampaui ketawadhuan ini?

Kemana insan insan yang penuh kehangatan itu menyapa hamba dan makhluk di bumi ini dengan penuh kelembutan, dahulukan senyum, lafalkan salam dan tanyakan kabar?

Lihatlah, kita sekarang berada pada kepongahan diri masing masing. Merasa paling benar, akui diri paling suci dan mungkin pula kitalah yang mengkapling kapling surga. Na’udzubillah…

Pada apapun, tawazunlah. Jangan pula karena kita terlalu mencintai suatu jamaah atau organisasi, kemudian menjadikan nalar kita mati, membuat mata dan hati menjadi buta dan telinga kita menjadi tuli. Na’udzubillah…

Apapun yang menjadi pilihan kita akan menjadi tanggung jawab diri kelak di akhirat.

Maka apa yang perlu kita khawatirkan?Kita lahir sendirian, dan pulang pun akan sendirian. Lalu apa yang kita takutkan?
Kecuali hanya Allah saja.

Kita melangkah dengan penuh keyakinan. Dengan hati yang jernih dan penuh harap bahwa dakwah akan tetap menjadi panglima di mana pun kita berdiri menginjak belahan bumi ini.

Bismillah…
Mari kita mulai melangkah menuju tangga peradaban ini.

4 Shafar 1438 Hijriyah

Dalam impian Peradaban Islam.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Imajinasi Takdir

Jika di hati kita terisi penuh akan Cinta-Nya
Mengapa kita masih berlemah lemah akan penerimaan Takdir-Nya?

Mengapa rasa itu selalu berganti?
Kadang yakin, kemudian ragu
Kadang ragu, kemudian yakin
Kadang semangat, kemudian lesu
Kadang lesu, kemudian semangat
Kadang tertawa, kemudian menangis
Kadang menangis, kemudian tertawa
Kadang bahagia, kemudian sedih
Kadang sedih, kemudian bahagia
Berganti terus menerus tanpa henti

Hati itu punya Allah
Pun, hak Allah lah yang membolak baliknya…
Mengapa kita selalu khawatirkan takdir yang sesungguhnya telah tertulis di Lauhul Mahfudz?

Ketakutan akan takdir, pengharapan kebaikan atas takdir adalah tanda iman kita Pada-Nya…
Agar, kita tidak pernah berhenti ikhtiar maksimal, doa maksimal dan tawakal atas akhir dari segala skenario takdir-Nya.

Harus berapa ribu kali lagi hati kita akan terus menerus berganti rasa? Sungguh, hanya Allah Yang Maha Tahu.

Bukankah, tugas kita adalah beribadah terbaik dengan penghambaan total Pada-Nya. Mengapa kita sibuk sekali memikirkan persoalan duniawi yang mudah sekali bagi Allah untuk memberikan atau mengabulkannya…

Kita lebih suka menelisik takdir dengan imajinasi sendiri, merasa paling tahu masa depan.
Padahal pengetahuan kita tidak pernah sampai setitik debu dibandingkan dengan luasnya Ilmu Allah…

Maka, apalagi yang perlu dikhawatirkan? Selain kematian dan tempat kembali terbaik Dari-Nya.

Adakah lagi perasaan terbaik, selain rasa khawatir akan kematian seperti apa yang akan kita hadapi?

Kapan kamu siap?

Eid Al Adha 1439 H
Dzulhijjah
Djati

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Duka ‘Kota Seribu Masjid’ Lombok

01-18-54-stasiun_05501080583.jpg

Duka telah menyelimuti setiap wajah insan di bumi Lombok yang kami cintai itu…

Yang pesonanya mampu hadirkan cerita juga decak kagum manusia berbagai belahan dunia…

Kota dengan julukan seribu Masjid itu telah luluh lantak…

Bangunan lebur,
rumah rumah hancur,
jalan jalan retak terbelah,
Gunung gunung bergemuruh,
jeritan tangis kegelapan memenuhi relung hati setiap insan di bumi itu…

Kami yang hanya menyaksikan ikut merinding dan tak henti beristighfar…
Astagfirullahal’adzim…
Ampuni kami dan saudara saudara kami, yaa Rabbii…
Lindungi kami dan saudara saudara kami, yaa Salam…

Sudah hampir 1 bulan gempa menemani kehidupan insan di Bumi seribu Masjid itu…

Sudah hampir 1000 kali gempa mengguncang bumi Lombok, tempat sementara kami berpijak…
Sudah ratusan ribu insan mengungsi di antara rasa takut dan trauma…
Sudah ratusan insan yang meninggal dunia…
Sudah puluhan ribu rumah rata dengan tanah..

Kemana kami meminta perlindungan? Selain hanya Pada-Mu, Yaa Rabbi…
Kemana kami meminta dihilangkan dari rasa takut dan trauma ini? Selain hanya Pada-Mu, ya Salam…

Adakah lagi dosa dosa kami yang menggunung tinggi, membuat-Nya marah pada kami?
Apakah keangkuhan kami yang membuat Allah murka pada kami…

Astagfirullah…
Laahaula walaa quwwata Illabillah…

Ya Rabb, sungguh kami ini adalah manusia manusia yang tidak pandai bersyukur, terlalu serakah dengan segala nikmat-Mu..

Ya Rabb, mohon ampun atas kekhilafan, kedhoifan, dan keangkuhan Kami sebagai seorang hamba…
Sungguh, tidak ada yang bisa menolong dari musibah atau ujian yang menimpa kami, selain hanya kekuatan Engkau, wahai Rabb kami… Ampuni kami… Kasihanilah kami yaa Rabb.

Duka Lombok adalah duka kami semua.
Dzulhijjah 1439 Hijriyah

Posted in Renungan | Tagged , , , | Leave a comment

Anak Zaman

Masih adakah laki laki teguh bermata teduh itu
Membuat alam serasa terhenti karena kesyahduan tuturnya
Menyibak tabir kepalsuan, menyanyikan senandung kebenaran

Masih adakah yang tersisa dari anak zaman
Sebuah kebijaksanaan
Lebih memilih menyepi di keramaian
Lebih memilih menepi di tengah tepuk riang
Lebih memilih sendiri di tengah riuhnya perbincangan

Adakah lagi keteguhan hati bagai Umar Bin Khattab?
Masihkah tersisa kelembutan tutur bagai Utsman Bin Affan ? 
Apakah masih ada ketawadhuan bagai Abu Bakar?
Apakah masih ada yang kecerdasannya melampaui anak zaman bagai Ali Bin Abi Thalib?
Apakah masih tersisa akhlak mulia bagai Sang Nabi ? Sebagaimana Ibunda Aisyah mengatakan bahwa, “akhlak Sang Nabi adalah Al Qur’an”. 

Sungguh, kita perlu laki laki tangguh yang lebih sibuk dengan urusan umat dibanding sibuk dengan urusan perasaan…

Apakah masih tersisa anak zaman itu? Yang akan menjadi kekuatan bagi kebangkitan Islam di muka bumi ini…

Dzulhijjah 1439 Hijriyah
Semoga menjadi Haji Mabrur BFH

Posted in Gerakan | Tagged , | Leave a comment

Harapan Baru

Mengapa setiap kehilangan dan kepergian seseorang dari hidup kita, Allah selalu hadirkan harapan baru? Harapan itu menjadi semangat baru dalam puzzle hidup kita…

Memberikan arah hidup yang tumbuh dari rasa keikhlasan, pengharapan tulus hanya Pada Allah semata…

Mengapa setiap yang pergi itu tidak menjadikan kita berlama lama mengenangnya? Karena Allah selalu hadirkan pelajaran dan hikmah bagi kehidupan yang mudah sekali berubah sesuai takdir-Nya.

Maka mengapa kita harus menghabiskan banyak waktu untuk mengenang sesuatu yang telah pergi jauh? Mengapa kita berlama lama memandang pada imajinasi masa lalu?

Kita hidup untuk masa depan, masa depan akhirat yang lebih menjanjikan. Mengapa masih berharap kembali pada kenangan kenangan yang sesungguhnya hanya lintasan waktu yang telah kita lalui?

Kita hanya perlu fokus mengisi lintasan waktu mendatang dengan sebaik baik tindakan. Sebermanfaat yang kita bisa lakukan, semaksimal yang bisa kita upayakan.

Maka, mengapa kita masih khawatir tentang kepergian atau kepulangan seseorang dalam hidup yang hanya seperempat senja.

Apakah kamu sudah menyiapkan bekal menuju kepulanganmu?

Ampar, 1 Dzulhijjah 1439 Hijriyah

Posted in Renungan | Tagged , , | 2 Comments

Manusia Merdeka

Mengapa jiwa kita mudah sekali terpasung pada kehendak individu yang dibungkus mantra ketaatan dalam jamaah?

Mengapa penghambaan pada manusia nyatanya masih kita alami? Apakah zaman jahiliyah itu kembali hadir di tengah peradaban millineal ini?

Apakah Berjamaah itu artinya mematikan nalar berpikir kita? Membungkam tanya kita, kemudian dipaksa menerima hasil saja.

Nyatanya… Rasul kita mengajarkan untuk berdiskusi, bermusyawarah untuk kemashlahatan…

Iya… Kita kadang lupa…
Kita hanyalah manusia
Yang punya banyak sekali ambisi dan egoisme…

Mengapa kita tak mengakui saja, kalau saya berambisi terhadap jabatan A, jabatan B, jabatan C, dan posisi posisi lainnya.

Bukan membungkus kejahatan niat diri dalam syuro agung nan suci. Cacatlah syuro kita…

Lagi lagi…
Siapa pula yang bisa membaca hati?
Hanya Allah kan!
tidak ada yang lain…

Dan, kita masih bersusah ria dengan pertahankan egosentris.

Lelah sekali nyatanya,
Aku kira belajar mengelola jamaah itu hanya terjadi pada level ketika kita di kampus, faktanya untuk berpikir mengelola negara kita belum sampai sana. Mengelola jamaah saja kita kacau balau…

Kita adalah kumpulan manusia merdeka, penghambaan kita hanya Pada Allah semata, bukan yang lain.

Dan, mengapa kita harus takut memperjuangkan kebenaran dan hentikan kedzaliman ?
Padahal kita diajarkan untuk amar ma’ruf wa nahi munkar.

Apakah perkataan itu hanya menjadi jargon kita? Kemudian menguap tak berbekas pada nurani kita.

Nyatanya, kita menganggap kedzaliman adalah hal biasa. Dan hal biasa adalah kedzaliman.

Sejak kapan tarbiyah ajarkan demikian?

Bukankah ada pepatah Arab yang sangat terkenal, ingatkan aku ketika aku sedang mendzalimi atau didzalimi…

Lalu, kamu berada di mana?
Pada terpasungnya jiwa, akal dan hatimu? Atau kau memilih menjadi manusia merdeka yang menghambakan diri hanya Pada-Nya?

Tanyakan pada hatimu…

Ampar 00:27
Dzulhijjah 1439 Hijriyah

Posted in Gerakan | Tagged , , , , , | Leave a comment