Anak Zaman

Masih adakah laki laki teguh bermata teduh itu
Membuat alam serasa terhenti karena kesyahduan tuturnya
Menyibak tabir kepalsuan, menyanyikan senandung kebenaran

Masih adakah yang tersisa dari anak zaman
Sebuah kebijaksanaan
Lebih memilih menyepi di keramaian
Lebih memilih menepi di tengah tepuk riang
Lebih memilih sendiri di tengah riuhnya perbincangan

Adakah lagi keteguhan hati bagai Umar Bin Khattab?
Masihkah tersisa kelembutan tutur bagai Utsman Bin Affan ? 
Apakah masih ada ketawadhuan bagai Abu Bakar?
Apakah masih ada yang kecerdasannya melampaui anak zaman bagai Ali Bin Abi Thalib?
Apakah masih tersisa akhlak mulia bagai Sang Nabi ? Sebagaimana Ibunda Aisyah mengatakan bahwa, “akhlak Sang Nabi adalah Al Qur’an”. 

Sungguh, kita perlu laki laki tangguh yang lebih sibuk dengan urusan umat dibanding sibuk dengan urusan perasaan…

Apakah masih tersisa anak zaman itu? Yang akan menjadi kekuatan bagi kebangkitan Islam di muka bumi ini…

Dzulhijjah 1439 Hijriyah
Semoga menjadi Haji Mabrur BFH

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Harapan Baru

Mengapa setiap kehilangan dan kepergian seseorang dari hidup kita, Allah selalu hadirkan harapan baru? Harapan itu menjadi semangat baru dalam puzzle hidup kita…

Memberikan arah hidup yang tumbuh dari rasa keikhlasan, pengharapan tulus hanya Pada Allah semata…

Mengapa setiap yang pergi itu tidak menjadikan kita berlama lama mengenangnya? Karena Allah selalu hadirkan pelajaran dan hikmah bagi kehidupan yang mudah sekali berubah sesuai takdir-Nya.

Maka mengapa kita harus menghabiskan banyak waktu untuk mengenang sesuatu yang telah pergi jauh? Mengapa kita berlama lama memandang pada imajinasi masa lalu?

Kita hidup untuk masa depan, masa depan akhirat yang lebih menjanjikan. Mengapa masih berharap kembali pada kenangan kenangan yang sesungguhnya hanya lintasan waktu yang telah kita lalui?

Kita hanya perlu fokus mengisi lintasan waktu mendatang dengan sebaik baik tindakan. Sebermanfaat yang kita bisa lakukan, semaksimal yang bisa kita upayakan.

Maka, mengapa kita masih khawatir tentang kepergian atau kepulangan seseorang dalam hidup yang hanya seperempat senja.

Apakah kamu sudah menyiapkan bekal menuju kepulanganmu?

Ampar, 1 Dzulhijjah 1439 Hijriyah

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Manusia Merdeka

Mengapa jiwa kita mudah sekali terpasung pada kehendak individu yang dibungkus mantra ketaatan dalam jamaah?

Mengapa penghambaan pada manusia nyatanya masih kita alami? Apakah zaman jahiliyah itu kembali hadir di tengah peradaban millineal ini?

Apakah Berjamaah itu artinya mematikan nalar berpikir kita? Membungkam tanya kita, kemudian dipaksa menerima hasil saja.

Nyatanya… Rasul kita mengajarkan untuk berdiskusi, bermusyawarah untuk kemashlahatan…

Iya… Kita kadang lupa…
Kita hanyalah manusia
Yang punya banyak sekali ambisi dan egoisme…

Mengapa kita tak mengakui saja, kalau saya berambisi terhadap jabatan A, jabatan B, jabatan C, dan posisi posisi lainnya.

Bukan membungkus kejahatan niat diri dalam syuro agung nan suci. Cacatlah syuro kita…

Lagi lagi…
Siapa pula yang bisa membaca hati?
Hanya Allah kan!
tidak ada yang lain…

Dan, kita masih bersusah ria dengan pertahankan egosentris.

Lelah sekali nyatanya,
Aku kira belajar mengelola jamaah itu hanya terjadi pada level ketika kita di kampus, faktanya untuk berpikir mengelola negara kita belum sampai sana. Mengelola jamaah saja kita kacau balau…

Kita adalah kumpulan manusia merdeka, penghambaan kita hanya Pada Allah semata, bukan yang lain.

Dan, mengapa kita harus takut memperjuangkan kebenaran dan hentikan kedzaliman ?
Padahal kita diajarkan untuk amar ma’ruf wa nahi munkar.

Apakah perkataan itu hanya menjadi jargon kita? Kemudian menguap tak berbekas pada nurani kita.

Nyatanya, kita menganggap kedzaliman adalah hal biasa. Dan hal biasa adalah kedzaliman.

Sejak kapan tarbiyah ajarkan demikian?

Bukankah ada pepatah Arab yang sangat terkenal, ingatkan aku ketika aku sedang mendzalimi atau didzalimi…

Lalu, kamu berada di mana?
Pada terpasungnya jiwa, akal dan hatimu? Atau kau memilih menjadi manusia merdeka yang menghambakan diri hanya Pada-Nya?

Tanyakan pada hatimu…

Ampar 00:27
Dzulhijjah 1439 Hijriyah

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Teman Perjalanan

Mengapa kita perlu berlapang lapang dada, pada setiap hal yang terjadi dalam hidup kita? Menyiapkan ruang yang luas dalam hati kita, sebagai pintu maaf atas rapuhnya setiap jiwa.

Kehidupan itu sendiri adalah ujian. Jika ada yang mengatakan bahwa perjalanan adalah teman, dan perjalanan diibaratkan seperti kehidupan. Maka makna teman bisa disandingkan dengan ujian.

Tak mudah menemukan teman perjalanan dan perjuangan yang tulus hatinya. Tidak jarang kita temui saat ini, bahwa ada orang orang yang memilih berteman dengan tujuan tertentu. Simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan di antara Keduanya.

Ibu sering sekali mengatakan padaku, hati hati memilih teman. Teman teman yang baik akan membawa kita pada keselamatan, sedangkan teman teman yang tidak baik membuat hidup kita berada dalam kerugian. Na’udzubillah

Tidak ada teman teman setia, kecuali teman teman yang saling mencintai karena Allah, Lillahi Ta’ala. Berteman bukan sekadar mendapat tujuan dunia. Berlomba dalam mendapat simpati dan pujian manusia. Na’udzubillah.

Kita adalah hamba yang setara di hadapan-Nya. Yang membedakan hanya takwa kita. Maka adakah yang lebih penting dalam hidup kita selain ridho-Nya?

Semua orang kadang berlomba untuk terlihat paling baik di antara yang lainnya. Melakukan hal hal yang tidak sepantasnya dilakukan. Menjatuhkan kehormatan seseorang demi pujian manusia yang hanya kecil saja dibandingkan karunia Allah.

Mengapa kita harus terus melatih hati untuk selalu peka pada setiap kejadian yang hadir dalam puzzle hidup ini? Agar kita bisa memilih teman terbaik untuk menemani perjalanan menuju-Nya.

Bukankah dunia ini hanya ujian dan senda gurau? Maka apa yang diharapkan pada kehidupan fana yang penuh fatamorgana.

Aku tak mencari teman yang sempurna. Tapi aku akan menerimamu dengan sempurna, dengan keterbatasan setiap dari kita kemudian menyempurnakan titian perjalanan yang mungkin tak mudah dilalui.

Ya, berjalan menuju-Nya. Bukan yang lain.

Ampar dengan sedikit pendar cahaya
260718

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ayah Ajarkan Aku Bagaimana Berpolitik dengan Santun

Hampir setiap hari Ayah rapat bersama Forum Peduli Desa, beranggotakan masyarakat tempat tinggal kami, mengkritisi kebijakan kebijakan desa yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Aku masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa yang dilakukan Ayah adalah bagian dari aktivitas politik. Setiap hari berkumpul bersama anggota forum peduli, yang isinya kebanyakan adalah pekerja atau karyawan. Sekadar berdiskusi, membahas program program desa dan kebijakan kebijakan pemerintah desa.

Setiap Ayah tiba di rumah, aku selalu bergegas memasang telinga baik baik sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Mendengarkan cerita Ayah tentang forum peduli yang diceritakannya pada ibu saat makan malam.

Ayah bilang pada Ibu, “sulit sekali kami minta transparansi anggaran pembangunan masjid pada panitia pembangunan masjid Raya di desa kami, padahal itu uang dari masyarakat.”

Memang bertahun tahun pembangunan tak kunjung selesai. Entah dana yang kurang atau terjadi sesuatu pada dana yang dikumpulkan…, entahlah.

Aku belum begitu paham saat itu. Tapi aku suka sekali mendengarkan cerita. Cerita aktivitas Ayah bersama forum pedulinya. Sampai sampai aku berniat mendaftar menjadi anggota.

Ayah tertawa saja saat aku sampaikan bahwa aku ingin menjadi bagian dari forum peduli.

Ayah bilang padaku, rajin belajar saja dulu, fokus belajar, gapai cita citamu. Itu adalah kebahagiaan bagi kami. Kami butuh orang orang cerdas yang nantinya menjadi penerus kami. Kata Ayah di sela sela percakapan sore hari di teras depan.

Sekali lagi, aku mengangguk. Walaupun tak ku mengerti apa yang dikatakan Ayah. Wajar saja, saat itu usia ku masih 10 tahun. Masih terbilang muda untuk mengerti banyak hal tentang politik.

Ayah selalu menasihatiku, agar berani melawan kedzaliman. Tidak takut dan tidak mundur dalam peperangan. Kita ada untuk membela orang orang lemah. Kita diciptakan untuk amar ma’ruf wa nahi munkar. Jangan takut jika kau berada dalam jalan kebenaran, walaupun akhirnya nyawa sebagai taruhannya.

Ayah selalu menyempatkan bercerita pada kami, walaupun sibuk seharian bekerja. Aku tahu, ayah tak punya pengetahuan komprehensif tentang mendidik anak, tapi hebatnya ayah paham bagaimana mendidik anak anaknya memiliki pemahaman yang lurus.

Ayah bilang, kita boleh benci pada kedzaliman. Tapi jangan pernah benci orangnya/pribadinya. Kita harus tetap santun, pada siapapun. Karena yang kita hadapi, sejatinya adalah Saudara kita sendiri.

Jangan pernah menghina, menghujat, bahkan menumpahkan darah saudara kita sendiri. Tugas kita adalah sampaikan kebenaran. Urusan hidayah, serahkan pada Allah. Ia yang memiliki hak atas setiap Hamba-Nya.

Aku masih terlalu kecil saat harus mencerna kata kata bijak itu. Setelah belasan tahun, aku baru memahami apa arti kalimat kalimat yang terucap dari lisan Ayah.

Sudah satu pekan aku membuat keputusan besar dalam hidupku. Entah arah seperti apa yang Allah ingin ajarkan padaku. Aku ikuti puzzle ini…

“Kalau ayahmu masih ada, ia bisa kasih arahan.” Pesan whatsapp yang membuat duniaku seolah terhenti begitu saja.

Kangen Ayah… 😢

Semoga aku bisa menjadi amal jariyah untukmu…

Allahummaghfirlii wali waalidayya warhamhuma kama rabbaayaanii shaghiiraa…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mengapa Berhenti Berbuat Baik?

Pernahkah kamu marah pada dirimu sendiri? Marah pada keadaan? Marah pada waktu? Marah pada semua hal yang membuat hidupmu bergerak lamban?

Itulah kenapa manusia itu Allah katakan tempatnya lupa dan khilaf. Mengapa kita mudah sekali mengutuk keadaan? Merasa semuanya tidak berjalan sesuai dengan inginmu.

Bahwa hidup memang adalah ujian. Kehidupan sendiri yang akan mengajarkan kita tentang bersabar, ikhlas dan ikhtiar maksimal untuk kehidupan yang lebih abadi.

Mengapa kita memilih berhenti sejenak pada aktivitas kebaikan? Padahal Allah ingin melihat kita terus bergerak, berjalan dan berlari menuju-Nya tanpa terpengaruh yang lain.

Mengapa kita memilih berhenti? Bukankah harapan dari akhir kita adalah surga dan bertemu Dengan-Nya? Mengapa kita begitu lemah?

Mengapa mudah sekali menyerah? Mengapa mudah sekali mundur? Mengapa mudah sekali merasa kehidupanmu yang paling malang?

Berhentilah mengutuk hidupmu.

Yang perlu kau perjuangkan adalah amal amalmu. Tabungan amal yang akan menolongmu di akhir nanti.

Menjadi hamba yang beruntung atau merugi?

Semoga pilihan kita adalah menjadi hamba yang beruntung. Bahagia dunia dan akhirat. Aamiin…

Juli’ 18
Ampar

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Rahasia Sempurna Milik Sang Pencipta

Mengapa fokus kita mudah sekali berubah? Disuguhi tayangan film milik orang lain, kita mudah sekali goyah. Kemudian menghabiskan banyak waktu untuk melihat kehidupan orang lain, yang mereka pertontonkan tanpa beban. Kemudian, membuatmu lupa sejenak pada dunia indah milikmu.

Sampai waktu senja tiba, dan kau gelagapan kemudian mulai merutuki diri dengan penyesalan penyesalan.

Mengapa harus tergoda melihat kehidupan orang lain melalui media sosial? Mengapa kita tergoda dengan fatamorgana, yang isinya lebih banyak pamer dibanding mengingatkan kita pada Sang Pencipta.

Mengapa kita mudah sekali iri melihat tayangan orang lain di media sosial. Tentang kehidupan bahagianya, mengunggah foto foto tertawa, seolah Ia adalah manusia paling bahagia dengan kehidupannya saat ini.

Yang pantas membuat kita iri adalah, seorang alim yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya, serta seorang yang berlimpah harta kemudian banyak mendermakan hartanya.

Sahabat, tak pernah ada yang tahu tentang kehidupan seorang hamba. Karena ianya adalah rahasia sempurna miliki Sang Pencipta.

Itulah kenapa, kita harus memilah setiap kata kata, foto foto, video video yang akan kita unggah di media sosial milik kita. Agar, tidak ada yang sia sia dari tiap jengkal langkah kaki kita, dari tiap zeptodetik waktu kita, dari tiap aktivitas indera kita. Jangan sampai berlalu tanpa meninggalkan kebaikan setelahnya.

Karena, setiap hal yang kita lakukan di dunia ini, tidak pernah luput akan penilaian-Nya kelak di Yaumil akhir.

Bahkan, kata kata yang kita ungkapkan, kita tuliskan dan unggah di media sosial, takkan pernah dibiarkan saja tanpa penilaian-Nya, Rabb kita semua, Hakim yang Seadil-Adilnya.

Wahai jiwa, jangan biarkan dirimu berlalu sedetik pun tanpa meninggalkan jejak kebaikan.

Malam kedua Ramadhan 1439 Hijriyah
Ampar

Posted in Ramadhan | Tagged | Leave a comment