Potret Nelayan Indonesia; Sekadar Pemeras Keringat Tanpa Daya

laut dan nelayan

Sepulang dari penelitian di pelabuhan Perikanan samudera Belawan, sumatera Utara. Saya belajar banyak hal, terutama tentang harapan nelayan. Mungkin saat ini harapan mereka tak muluk-muluk, hanya berharap hidup mereka sejahtera walaupun sederhana asal serba cukup. Cukup untuk kebutuhan makan, cukup untuk biaya anak sekolah, cukup untuk jaminan kesehatan keluarganya. Bahkan mereka tak banyak maunya, hanya berharap keadilan suatu saat akan datang padanya dan anak cucunya.

Pengalaman hidup memang amat berarti bagi seorang nelayan. Bagi mereka, pendidikan itu bukanlah pendidikan formal di bangku sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas bahkan hingga perguruan tinggi. Bagi nelayan, pendidikan buat mereka adalah pengalaman bertahan hidup di tengah lautan yang diterpa badai dan gelombang. Pendidikan buat mereka adalah bagaimana caranya mereka lari dari kejaran aparat negara lain agar tak tertangkap ketika menangkap ikan di wilayah perbatasan. Pendidikan buat mereka adalah memperbaiki alat tangkap mereka yang rusak, pendidikan buat mereka adalah menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Tak peduli, semakin berkurang atau rusaknya sumberdaya ikan bangsa ini akibat tekanan para pemilik kapal pada nelayan. Bahkan mereka bukan tak peduli, tepatnya mereka tak pernah tau.

Potret Nelayan bangsa kita ini tak pernah lepas dari kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan dan keterbelakangan. Memang faktanya Nelayan kita belum mendapatkan haknya sebagai manusia. jika di perusahaan atau pabrik pasti ada jaminan kesehatan atau keselamatan kerja. Namun, bekerja dikapal tak pernah ada keselamatan kerja untuk nelayan. mereka tak pernah tau akan haknya. Sekedar pencerdasan pada nelayan mungkin saja hanya berlalu saja bagai angin dilautan. Memang, pendidikan dan pengetahuan buat mereka tak lebih dari sekedar praktek di laut bukan teori yang membosankan.

Bagi nelayan Indonesia lari dari kejaran aparat negara lain ketika menangkap di perbatasan wilayah merupakan harapan. Karena, jika mereka tertangkap aparat negara lain, artinya tak ada kehidupan lagi buat keluarganya di rumah. Mirisnya kehidupan nelayan, nyawa adalah taruhan dari konsekuensi mereka sebagai seorang nelayan. Tak pernah ada jaminan keselamatan dari pemilik kapal maupun pemerintah bangsa ini. Jika mereka ditangkap, tak ada lagi harapan untuk keluarganya, selain mereka harus berjuang sendiri mencukupi kebutuhan rumah tangga yang harganya melambung tinggi.

Negara kita ini dua pertiganya adalah lautan, potensi sumberdaya laut kita terutama ikannya perlahan semakin berkurang akibat penangkapan ikan yang berlebihan. Kita, memang tak sepatutnya menyalahkan nelayan yang hidupnya hanya berharap dari hasil tangkapan setiap kali mereka melaut. Kita memang tak boleh menutup mata, atau berpura-pura tak tahu. Sumberdaya ikan kita yang melimpah dengan wilayah laut yang luas menjadi incaran negara lain. Kasus-kasus penangkapan nelayan asing oleh Polisi air di Pelabuhan Belawan masih saja terjadi hingga tahun 2014 ini, karena mereka telah menangkap ikan di wilayah territorial negara kita. Ini merupakan tugas kita bersama, bangsa kita perlu meningkatkan patroli dalam mengupayakan keamanan laut bangsa ini. Semua instansi terkait seperti polisi air, Lantamal, PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan)  perlu meningkatkan koordinasinya dalam rangka memberikan keamanan bagi nelayan Indonesia untuk kesejahteraan nelayan, serta menunjukkan ketegasan kita sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat.

Advertisements
Posted in Gerakan | Tagged , , , | Leave a comment

Pemandangan saat di atas Bianglala

Benar, di atas ketinggian itu kita akan merasa takut, kerdil dan merasa diri ini kecil, amat kecil dibandingkan butiran pasir Dihadapan-Nya.

Di atas ketinggian itu rasa takut merajai diri, jika ia adalah akhir dari kehidupan kita yang belum ada apa-apanya. Dan, kita memang bukanlah apa apa.

Kita hanya kecil saja di hadapan Rabb kita.

Di atas ketinggian itulah kita bisa melihat ke berbagai sisi. Menyaksikan dengan jelas tentang kehidupan yang hanya serupa jeda.

Hatimu takut, tapi kau ingin tetap melihat keindahan itu. Sejatinya ketinggian itu memberikan janji kehidupan yang lebih indah, walaupun kau harus menahan rasa takut itu dengan keberanian.

Sesekali memejamkan mata, kemudian membukanya kembali adalah cara terbaik untuk mengobati takutmu.

Di ketinggian itu, kita akan sangat merasa dekat Dengan-Nya, Terus mengucap asma-Nya tanpa henti. Setiap ketakutan dari tatapanmu pada seluruh pemandangan terindah, semakin mengingatkanmu Pada-Nya…

Ketinggian itu bagai kematian. Kematian itu ditakuti, sama seperti ketinggian. Tapi, nyatanya di atas ketinggian itu kau bisa menikmati keindahan alam ini.

Maka, persiapkan yang terbaik untuk menikmati ketinggianmu. Agar ketinggian itu tidak menjadikanmu takut. Tapi semakin menguatkanmu untuk bertemu Dengan-Nya.

12 Maret 2018
Di atas ketinggian

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Narasi Besar Pemuda

Mari mainkan peran kita, menjadi pemuda yang banyak belajar, berlatih, membaca, berdiskusi, berbuat untuk umat, berani amar ma’ruf wa nahi munkar.

Bukan jadi pemuda yang sibuk dengan rasa dan roman picisan. Menghabiskan banyak waktu untuk membahas tentang hal yang sudah pasti, kemudian lebih banyak galau dan membuat lemah diri.

Kita bukanlah pemuda yang bangga dengan keturunannya, yang mengandalkan nama besar orang tuanya, kakek neneknya dan keturunannya sampai ke atas.

Tapi kita bicara tentang narasi besar pemuda hari ini. Mau seperti apa kita dikenang, tercipta dari seberapa besar peran kita hari ini.

Kita tidak sedang mengumpulkan deretan penghargaan dan decak kagum manusia. Tapi kita sedang berjuang, memperjuangkan visi misi hidup demi tegaknya Kalimat Allah di muka bumi ini.

Sudah seberapa banyak pengorbananmu untuk agama ini? Untuk kemenangan Islam dan peradaban? Mari merefleksi diri.

Kita sedang berlari, mengejar ketertinggalan. Kalah jauh dibandingkan pemuda zaman Rasulullah, yang orientasi hidupnya semata mata untuk Allah dan agama ini.

Semoga kita semakin semangat untuk mengakselerasi diri, agar hidup yang singkat ini bisa kita isi dengan visi misi agama ini.

Djayakarta,
Jumadil Akhir 1439 Hijriyah

Posted in Gerakan | Tagged , , | Leave a comment

Rinai hujan

Aku merindukan rinai hujan…
Seperti dulu…

Setiap kali gerimis di bawah langit biru
Aku memandang pada gelombang laut yang saling berkejaran

Atau aku memilih menetap di ruang kotak bersama tumpukan buku kehidupan.
Memandang datar pada rumput yang dibasahi bulir bulir air

Getar hati semakin menguat
Imajinasi tentang masa lalu kembali hadir bagai kilat

Kau akan berlama lama menatap rintik hujan
Dan kemudian tak sadar bulir di matamu juga ikut mengalir

Bukan karena kau menyesal akan hadirnya hujan
Itu karena kau amat bahagia
Bertemu hujan artinya bertemu kesempatan
Kesempatan untuk mengeja doa

Apa yang kau minta saat hujan kali ini?
Semoga kebaikan dan keberkahan Dari-Nya selalu menemani…

Malam, jati

Jumadil Akhir

Posted in Puisi | Tagged | Leave a comment

Beku

Entah sudah berapa purnama kau melalaikan target targetmu? Entah sudah sejauh apa mereka berlari? Sedang kau masih membeku bersama bongkahan es di hatimu.

Kau selalu saja sibuk dengan imajinasimu. Menerawang jauh pada proyeksi hidup masa lalu. Kau masih saja suka berandai, berharap sesuatu yang kau inginkan itu terjadi. Menjadi nyata dan berakhir bahagia versimu.

Kau masih saja sama. Seperti manusia kayu di tepian jalanan salju. Kaku dan tak seceria dulu.

Bahkan tak bergeming sedikit pun saat orang lain sudah berlari karena kedinginan. Kau tak takut membeku, apalagi takut pada dingin. Tak ada dalam kamusmu…

Kau lagi lagi hanya menatap tanpa kilatan cahaya, seperti cahaya yang terpancar karena ceriamu dulu. Namun, cahaya di matamu juga ikut tenggelam bersama es yang menutupi seluruh tubuhmu.

Kapan lagi matahari terbit? Panas itu bisa mencairkan kebekuan hatimu. Menjadikan kau dan makhluk tanah lainnya hidup kembali.

Kau tahu, Ia telah menunggumu di sebrang lautan sana. Tidakkah kau sedikit berempati padanya?

Ia tetap bertahan, menunggumu…
Tak pergi, walau kau memintanya pergi…
Tak pernah melupa, walau kau memintanya menghapus ingatannya tentangmu…

Lagi lagi, apa pedulimu?
Kau tak ahli mengemas hati
Kau hanya ahli membuat Ia menetap lama tanpa kepastian.
Membuatnya menerka hingga lelah, kemudian kita akan sama sama saksikan ia bertahan dengan keacuhanmu atau memilih pergi selamanya?

Malam Jati
16 Jumadil Akhir 1439 Hijriyah

Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

(Tak) Peduli

Peduli apa mereka tentangmu? Mereka hanya hadir sebentar, kemudian pergi. Tertawa, kemudian merasa dekat dan paling tahu dirimu.

Tidak ada yang benar benar tulus. Kecuali orang orang yang saling bersahabat dan mencintai karena-Nya.

Bukankah sudah berkali kali kau mendengar cerita mereka? Tidakkah kau ambil pelajaran?

Peduli apa tentang dirimu yang menepi di pinggir rel kereta api tua? Yang menunggu di kursi cat putih sambil menyaksikan aktivitas manusia?

Hatimu bahkan amat teguh kan? Bukan teguh, tepatnya kau sedang berjuang meneguhkan hati. Tak mempedulikan urusan urusan rasa tak penting versimu.

Kau lebih menyukai merenung di keramaian, kemudian menuliskannya pada deretan kata di notes mu.

Kemudian kau akan membacanya lagi, lagi dan lagi. Hingga kau merasa padanan katanya kau sukai.

Hai, aku bertanya padamu. “Apakah kau tak bosan menjalani semua ini?”

Kau jawab datar, “mengapa harus bosan? Sedangkan kita akan selalu menemukan kedamaian pada tiap langkah kita yang mendekat Pada-Nya ?”

Sekali lagi kau bilang, “peduli amat tentang orang orang yang menatapmu penuh tanda tanya, mungkin juga mereka telah berimajinasi tentang jawaban versi mereka sendiri. Merasa paling tahu tentang hidup orang lain.”

“Tak peduli.”

“Yang Jelas, aku punya tujuan hidup jelas. Hidupku hanya untuk Memenangkan-Nya bukan yang lain.” Jawabanmu tegas, Sambil menatap pada kereta yang baru saja tiba.

Menunggu kereta tiba
Ampar
15 Jumadil Akhir 1439 Hijriyah

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Yang Berat Itu Bukan Rindu

Bilang pada Dilan, yang berat itu bukan rindu pada manusia. Tapi… yang berat itu adalah istiqamah pada segala ketentuan Sang Pencipta.

Bukankah sudah ribuan kali mendengar ayat, hadits, motivasi dan quote tentang istiqamah? Tidakkah kita menyadari dan kemudian semangat melakukan kebaikan pada tiap langkah hidup yang menemani ?

Atau kita lebih suka menjadikan ayat dan hadits itu hanya pengantar tidur sementara? Kemudian lupa apa isinya.

Rasanya, kita terlalu berlemah-lemah pada diri. Memberikan banyak pemakluman dan kelonggaran pada rasa jenuh yang menyerang hampir setiap detik nafas kita.

Menjadikan alunan masa depan itu seperti merangkak tak tentu arah. Kita kehilangan pijakan atas rasa bosan yang selalu menggelayuti pada tiap sudut kehidupan.

Itulah mengapa aku mengatakan, yang berat itu bukan rindu pada manusia, tapi… Yang berat itu adalah Istiqamah pada setiap langkah hidup yang telah kita azzamkan untuk bertemu Dengan-Nya.

Istiqamah untuk berlari menuju-Nya. Bukan berhenti sesekali kemudian hanyut terbawa aliran air deras karena rinai hujan baru saja turun membasahi bumi.

Apakah ayat-ayat Cinta-Nya masih kurang menginspirasi diri kita? Hingga tidak menggerakkan hati dan pikiran untuk melakukan kebenaran dan kebaikan terus menerus tanpa henti?

Pernahkah kita dengar hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersikaplah yang lurus dan tetaplah dalam kebenaran. Dan ketahuilah, bahwasanya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat karena amal perbuatannya”. Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau, wahai Rasûlullâh?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk aku, hanya saja Allâh meliputi diriku dengan rahmat dan karunia-Nya.”

Tidakkah kita menyadarinya? Bersikaplah yang lurus dan tetaplah dalam kebenaran.

Dan sudahkah kita melakukan apa yang Rasulullah katakan ini?

“Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena hidup kita adalah serupa pembuktian. Maka, tak ada lagi alasan untuk berlemah-lemah dalam perjuangan. Bersikaplah yang lurus dan tetaplah dalam kebenaran.

Ampar tengah purnama
13 Jumadil Akhir

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment