Rahasia Sempurna Milik Sang Pencipta

Mengapa fokus kita mudah sekali berubah? Disuguhi tayangan film milik orang lain, kita mudah sekali goyah. Kemudian menghabiskan banyak waktu untuk melihat kehidupan orang lain, yang mereka pertontonkan tanpa beban. Kemudian, membuatmu lupa sejenak pada dunia indah milikmu.

Sampai waktu senja tiba, dan kau gelagapan kemudian mulai merutuki diri dengan penyesalan penyesalan.

Mengapa harus tergoda melihat kehidupan orang lain melalui media sosial? Mengapa kita tergoda dengan fatamorgana, yang isinya lebih banyak pamer dibanding mengingatkan kita pada Sang Pencipta.

Mengapa kita mudah sekali iri melihat tayangan orang lain di media sosial. Tentang kehidupan bahagianya, mengunggah foto foto tertawa, seolah Ia adalah manusia paling bahagia dengan kehidupannya saat ini.

Yang pantas membuat kita iri adalah, seorang alim yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya, serta seorang yang berlimpah harta kemudian banyak mendermakan hartanya.

Sahabat, tak pernah ada yang tahu tentang kehidupan seorang hamba. Karena ianya adalah rahasia sempurna miliki Sang Pencipta.

Itulah kenapa, kita harus memilah setiap kata kata, foto foto, video video yang akan kita unggah di media sosial milik kita. Agar, tidak ada yang sia sia dari tiap jengkal langkah kaki kita, dari tiap zeptodetik waktu kita, dari tiap aktivitas indera kita. Jangan sampai berlalu tanpa meninggalkan kebaikan setelahnya.

Karena, setiap hal yang kita lakukan di dunia ini, tidak pernah luput akan penilaian-Nya kelak di Yaumil akhir.

Bahkan, kata kata yang kita ungkapkan, kita tuliskan dan unggah di media sosial, takkan pernah dibiarkan saja tanpa penilaian-Nya, Rabb kita semua, Hakim yang Seadil-Adilnya.

Wahai jiwa, jangan biarkan dirimu berlalu sedetik pun tanpa meninggalkan jejak kebaikan.

Malam kedua Ramadhan 1439 Hijriyah
Ampar

Advertisements
Posted in Ramadhan | Tagged | Leave a comment

Allah Dekat

Adakah hal yang paling membahagiakan selain hati yang sakinah ketika Mengingat-Nya? Adakah hal lain yang paling membuatmu sakinah, selain hati yang bergetar ketika menyebut, mendengar dan membaca asma dan ayat-ayat Cinta-Nya?

Tak ada lagi hal yang bisa membuatmu bahagia juga merasakan sakinah yang mendalam selain kedekatan Dengan-Nya. Sungguh, tak ada lagi yang lain. Tak ada hal yang bisa menandingi-Nya.

Bahkan, ketika engkau merasa sendiri di dunia ini, tak ada sahabat sahabat terbaik yang menemani. Sesungguhnya engkau tidak pernah sendiri. Karena Allah selalu dekat. Hanya, bagaimana kita bisa memulai untuk membuka ruang ruang itu menjadi ruang tanpa sekat.

Apakah kita tidak memikirkan dan merenungkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- , Kata Allah, “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”

MasyaAllah… Sangat indah dan mendalam pemaknaan hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim ini. Bahwa seorang hamba tidak pernah dibiarkan sendirian, tidak pernah dibiarkan sendiri dalam menghadapi ujian yang Allah berikan. Allah selalu siap menjadi tempat sandaran, saat kita menyandarkan diri hanya Pada-Nya.

Apakah kita telah menyadari hal ini? Memikirkan dan merenungkan setiap solusi yang Allah kirim melalui ayat ayat Cinta dan sabda kekasih-Nya?

Mendekatlah Pada-Nya, pada setiap kondisi apapun dalam hidupmu. Karena Allah lah yang memberikan sakinah dan petunjuk bagi tiap puzzle hidup seorang hamba yang telah dirangkai-Nya dengan indah.

Selesaikan puzzle hidupmu dengan meminta petunjuk pada Pemandu Terbaik, Sang Pembimbing, Sang Pencipta, Yang Maha Sempurna.

Malam 1 Ramadhan 1439 Hijriyah
Ampar

Posted in Ramadhan | Tagged , , , | Leave a comment

Adil Sejak dalam Pikiran

Sudah lama tak menuliskan tentang rasa. Bukan karena hidup yang flat. Tapi karena aku sibuk mencari simpul dari kusutnya sebuah jalan.

Kita adalah manusia merdeka. Mengapa masih takut untuk bersuara? Mengapa masih takut untuk bersikap?

Jamaah ini bukanlah kumpulan malaikat-malaikat yang tanpa cacat. Tanpa akal untuk berpikir dan menimbang. Bukankah keagungan manusia terletak pada akalnya? Yang bisa ia gunakan untuk menilai, berpikir, memutuskan serta bersikap untuk memperjuangkan kebenaran?

Kita memang berjamaah, tapi harusnya tak membutakan mata dan hati kita, tidak membuat kita tuli pada kenyataan dan tidak membuat kita bisu untuk mengatakan kebenaran.

Taat boleh. Tapi, faham sebelum taat itu wajib.

Bukankah Allah telah mengatakan, kamu akan dimintai pertanggungjawaban pada setiap hal yang telah kamu lakukan. Maka, dalam ayat ini jelas menekankan bahwa kita harus memahami sesuatu, sebelum kita beramal.

Beramal butuh ilmu. Termasuk berjamaah pun butuh pemahaman. Janganlah kita taat pada keburukan dan kemaksiatan yang dibungkus dalil dalil Quran.

Sebagaimana Sayyid Quthb mengatakan dalam bukunya yang berjudul “Ma’alim Fi At Thariq”, “Bukankah manusia sejatinya menyembah kepada Allah semata? Mestinya, tak ada seorang pun hamba yang boleh mengendalikan mereka dengan kekuasaan (power) yang dimilikinya dan dengan aturan hawa nafsu dan pikirannya.”

Berjamaah tak membuat nalar kita berhenti. Mati-matian membela dan mentaati perintah pemimpin yang dzalim.

Maka, mengapa kita harus adil dalam berpikir? Agar hati dan akal kita tidak mati. Sehingga kita menjadi Jundiyah bagi dakwah ini. Bukan Jundiyah bagi qiyadah dzalim. Karena taat kita mestilah pada Allah dan Rasul-Nya semata, serta pemimpin yang adil, bukan pemimpin yang dzalim.

Gerbong Kereta Tangerang-Jakarta
Sya’ban 1439 Hijriyah

Posted in Gerakan | Tagged , , , , | 1 Comment

Inginmu dan Kehendak-Nya

Indah sekali pagi ini…
Gerimis yang meneduhkan, keramaian yang mendamaikan. Juga dzikir alam yang berdendang riang.

Meluruhkan semua kenangan, juga harapan harapan. Bukankah sudah berkali kali kau tahu, bahwa hanya Allah lah yang bisa mengabulkan segala harapan dan pinta? Mengapa masih keras kepala pada kehendak hatimu?

Bukan lagi tentang keinginanmu semata, tapi ada banyak keinginan makhluk lainnya yang tak pernah berhenti dalam pinta Pada-Nya. Apakah kau telah mendoa dan melakukan ikhtiar terbaik? Karena Allah, tak hanya melihat apa inginmu. Tapi lebih jauh, Allah melihat apa usahamu?

Bukankah Allah telah memenuhi segala kebutuhanmu? Mengapa masih protes dalam hatimu?

Sudah berapa purnama kau sia siakan? Lebih banyak mencari alasan atas kehendak-Nya yang tak sesuai inginmu.

Belajarlah untuk lebih ikhlas. Menerima skenario Dari-Nya sebagai sebaik-baik rencana.

Bukan kita yang tentukan ujung perjalanan ini… kehendak Allah jauh lebih indah dibandingkan rencana kita yang hanya terlihat indah di mata, namun masih banyak kelemahan dalam pinta.

Tetaplah menjadi baik dan benar dalam kondisi apapun.

Tangerang, pagi hari
Sya’ban 1439 Hijriyah
H-24 Ramadhan

Posted in Renungan | Tagged , , | Leave a comment

Potret Nelayan Indonesia; Sekadar Pemeras Keringat Tanpa Daya

laut dan nelayan

Sepulang dari penelitian di pelabuhan Perikanan samudera Belawan, sumatera Utara. Saya belajar banyak hal, terutama tentang harapan nelayan. Mungkin saat ini harapan mereka tak muluk-muluk, hanya berharap hidup mereka sejahtera walaupun sederhana asal serba cukup. Cukup untuk kebutuhan makan, cukup untuk biaya anak sekolah, cukup untuk jaminan kesehatan keluarganya. Bahkan mereka tak banyak maunya, hanya berharap keadilan suatu saat akan datang padanya dan anak cucunya.

Pengalaman hidup memang amat berarti bagi seorang nelayan. Bagi mereka, pendidikan itu bukanlah pendidikan formal di bangku sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas bahkan hingga perguruan tinggi. Bagi nelayan, pendidikan buat mereka adalah pengalaman bertahan hidup di tengah lautan yang diterpa badai dan gelombang. Pendidikan buat mereka adalah bagaimana caranya mereka lari dari kejaran aparat negara lain agar tak tertangkap ketika menangkap ikan di wilayah perbatasan. Pendidikan buat mereka adalah memperbaiki alat tangkap mereka yang rusak, pendidikan buat mereka adalah menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Tak peduli, semakin berkurang atau rusaknya sumberdaya ikan bangsa ini akibat tekanan para pemilik kapal pada nelayan. Bahkan mereka bukan tak peduli, tepatnya mereka tak pernah tau.

Potret Nelayan bangsa kita ini tak pernah lepas dari kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan dan keterbelakangan. Memang faktanya Nelayan kita belum mendapatkan haknya sebagai manusia. jika di perusahaan atau pabrik pasti ada jaminan kesehatan atau keselamatan kerja. Namun, bekerja dikapal tak pernah ada keselamatan kerja untuk nelayan. mereka tak pernah tau akan haknya. Sekedar pencerdasan pada nelayan mungkin saja hanya berlalu saja bagai angin dilautan. Memang, pendidikan dan pengetahuan buat mereka tak lebih dari sekedar praktek di laut bukan teori yang membosankan.

Bagi nelayan Indonesia lari dari kejaran aparat negara lain ketika menangkap di perbatasan wilayah merupakan harapan. Karena, jika mereka tertangkap aparat negara lain, artinya tak ada kehidupan lagi buat keluarganya di rumah. Mirisnya kehidupan nelayan, nyawa adalah taruhan dari konsekuensi mereka sebagai seorang nelayan. Tak pernah ada jaminan keselamatan dari pemilik kapal maupun pemerintah bangsa ini. Jika mereka ditangkap, tak ada lagi harapan untuk keluarganya, selain mereka harus berjuang sendiri mencukupi kebutuhan rumah tangga yang harganya melambung tinggi.

Negara kita ini dua pertiganya adalah lautan, potensi sumberdaya laut kita terutama ikannya perlahan semakin berkurang akibat penangkapan ikan yang berlebihan. Kita, memang tak sepatutnya menyalahkan nelayan yang hidupnya hanya berharap dari hasil tangkapan setiap kali mereka melaut. Kita memang tak boleh menutup mata, atau berpura-pura tak tahu. Sumberdaya ikan kita yang melimpah dengan wilayah laut yang luas menjadi incaran negara lain. Kasus-kasus penangkapan nelayan asing oleh Polisi air di Pelabuhan Belawan masih saja terjadi hingga tahun 2014 ini, karena mereka telah menangkap ikan di wilayah territorial negara kita. Ini merupakan tugas kita bersama, bangsa kita perlu meningkatkan patroli dalam mengupayakan keamanan laut bangsa ini. Semua instansi terkait seperti polisi air, Lantamal, PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan)  perlu meningkatkan koordinasinya dalam rangka memberikan keamanan bagi nelayan Indonesia untuk kesejahteraan nelayan, serta menunjukkan ketegasan kita sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat.

Posted in Gerakan | Tagged , , , | Leave a comment

Pemandangan saat di atas Bianglala

Benar, di atas ketinggian itu kita akan merasa takut, kerdil dan merasa diri ini kecil, amat kecil dibandingkan butiran pasir Dihadapan-Nya.

Di atas ketinggian itu rasa takut merajai diri, jika ia adalah akhir dari kehidupan kita yang belum ada apa-apanya. Dan, kita memang bukanlah apa apa.

Kita hanya kecil saja di hadapan Rabb kita.

Di atas ketinggian itulah kita bisa melihat ke berbagai sisi. Menyaksikan dengan jelas tentang kehidupan yang hanya serupa jeda.

Hatimu takut, tapi kau ingin tetap melihat keindahan itu. Sejatinya ketinggian itu memberikan janji kehidupan yang lebih indah, walaupun kau harus menahan rasa takut itu dengan keberanian.

Sesekali memejamkan mata, kemudian membukanya kembali adalah cara terbaik untuk mengobati takutmu.

Di ketinggian itu, kita akan sangat merasa dekat Dengan-Nya, Terus mengucap asma-Nya tanpa henti. Setiap ketakutan dari tatapanmu pada seluruh pemandangan terindah, semakin mengingatkanmu Pada-Nya…

Ketinggian itu bagai kematian. Kematian itu ditakuti, sama seperti ketinggian. Tapi, nyatanya di atas ketinggian itu kau bisa menikmati keindahan alam ini.

Maka, persiapkan yang terbaik untuk menikmati ketinggianmu. Agar ketinggian itu tidak menjadikanmu takut. Tapi semakin menguatkanmu untuk bertemu Dengan-Nya.

12 Maret 2018
Di atas ketinggian

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Narasi Besar Pemuda

Mari mainkan peran kita, menjadi pemuda yang banyak belajar, berlatih, membaca, berdiskusi, berbuat untuk umat, berani amar ma’ruf wa nahi munkar.

Bukan jadi pemuda yang sibuk dengan rasa dan roman picisan. Menghabiskan banyak waktu untuk membahas tentang hal yang sudah pasti, kemudian lebih banyak galau dan membuat lemah diri.

Kita bukanlah pemuda yang bangga dengan keturunannya, yang mengandalkan nama besar orang tuanya, kakek neneknya dan keturunannya sampai ke atas.

Tapi kita bicara tentang narasi besar pemuda hari ini. Mau seperti apa kita dikenang, tercipta dari seberapa besar peran kita hari ini.

Kita tidak sedang mengumpulkan deretan penghargaan dan decak kagum manusia. Tapi kita sedang berjuang, memperjuangkan visi misi hidup demi tegaknya Kalimat Allah di muka bumi ini.

Sudah seberapa banyak pengorbananmu untuk agama ini? Untuk kemenangan Islam dan peradaban? Mari merefleksi diri.

Kita sedang berlari, mengejar ketertinggalan. Kalah jauh dibandingkan pemuda zaman Rasulullah, yang orientasi hidupnya semata mata untuk Allah dan agama ini.

Semoga kita semakin semangat untuk mengakselerasi diri, agar hidup yang singkat ini bisa kita isi dengan visi misi agama ini.

Djayakarta,
Jumadil Akhir 1439 Hijriyah

Posted in Gerakan | Tagged , , | Leave a comment