Karena Cinta-Nya

Mungkin ada benarnya juga pepatah yang mengatakan bahwa orang yang sedang jatuh cinta itu kadang lebih puitis dibandingkan orang yang sedang tidak jatuh cinta.

Orang yang sedang jatuh cinta lebih perasa dan juga lebih mudah merangkai kata hingga jadi puisi puisi yang indah sebagai ungkapan rasa cintanya. Bahkan tidak jarang lebih mudah menangis sebagai ungkapan rasa yang memenuhi hati dan pikirannya.

Jika rasa cinta kita pada manusia membuat hati kita berbunga bunga, sepanjang hari wajah berseri. Bagaimana rasanya jika jatuh cinta berkali kali pada Sang Pencipta?

Benar sekali apa yang diungkapkan Ibnul Qayyim Al Jauzy, “Andai kau tahu, bagaimana hebatnya Allah mengatur segala urusan hidupmu, pastilah hatimu akan meleleh karena cinta kepadaNya.”–

Jatuh cinta itu mampu berkali kali lipat menghasilkan energi. Hingga tanpa sadar membuat kita lebih mudah menangis. Entah menangis karena kesyukuran kita akan nikmat-Nya, ataupun menangis karena kita tahu bahwa Allah akan menyiapkan yang terbaik untuk setiap hal yang terjadi pada hidup ini.

Apakah jatuh cinta itu membuat kita semakin baik? Semoga iya.
Apakah kita mampu menjaga cinta kita Pada-Nya sepanjang waktu? Semoga mampu…
Karena tidak ada cinta yang membuat kita sakinah selain cinta kita Pada-Nya dan cinta Rabb pada hamba-Nya.
Mari kita berlomba mendapatkan Cinta-Nya.

Semoga Allah selalu menaungi dengan cinta dan keberkahan-Nya…

Ampar-Jati
26 Rabi’ul Akhir 1440 Hijriyah

Advertisements
Posted in Renungan | Tagged | 1 Comment

Menjadi Baik

Apa rasanya jika kau berdiri di tengah keramaian dan kau merasa kesepian?
Lalu lalang manusia hanya seperti kilatan cahaya

Tatapan kosong mereka yang tak berarti memenuhi wajahmu yang tak peduli

Kau seperti berjalan sendirian di tengah keramaian

Menikmati angin malam yang menusuk tulang

Melihat cahaya berpendar di tengah lintasan kereta api tua
Tetesan air bening menerpa kilatan cahaya, membasahi atap rumah kaca..

Esok sudah berganti…
Apakah engkau akan tetap sama?
Duduk menunggu di kursi panjang bercat putih

Atau bersandar pada tiang tiang pancang atap stasiun yang berdiri kokoh tiap 10 meter lintasan

Atau kau lebih memilih berdiri di batas garis peron yang sering diperingati petugas dengan suara peluit panjangnya untuk tak melewati batas, garis kuning itu

Jangan lagi kau habiskan waktumu di posisi yang sama, juga pada lintasan yang sama.
Bukankah kita harus lebih baik tiap incinya dan bahkan tiap zeptodetiknya?

Semoga jika pun sama, itu adalah caramu dalam memaknai jeda. Semoga tak membuat hatimu membeku seperti dulu.
Semoga tidak…

Karena hidup itu untuk masa depan kan?
Masa depan akhirat yang jaminannya lebih menjanjikan. Bukan masa lalu yang telah terlipat waktu. Yang hanya menyisakan kenangan dan pelajaran. Itu saja, tidak lebih.

Jangan bosan untuk terus bermuhasabah diri,

Karena saat itulah kita punya jeda untuk mengingat dan menilai kembali waktu yang telah kita habiskan bersama senja.

Semoga engkau bertambah baik, wahai diri…

26 Rabi’ul Akhir 1440 Hijriyah
Peron Kereta & Rumah tua

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Nilai Kehidupan

Mengapa kita berlama lama pada sesuatu yang telah pergi jauh?
Mengapa kita sulit sekali membuka lembaran baru akan kehidupan yang sejatinya bergerak maju?
Mengapa kita lebih banyak fokus pada masa lalu yang sejatinya, itu adalah bagian dari pelajaran dan hikmah untuk diri?
Mengapa kita menyesali sesuatu yang telah terjadi?

Bahwa, hidup itu bergerak maju ke depan bukan mundur ke belakang…

Lalu apa lagi yang membuatmu berlama lama pada pencapaian yang tak maksimal, pada hal hal yang mengecewakan, pada sesuatu yang menghabiskan banyak waktu dan energimu?

Sudah berganti hari, maka kita harus belajar dari kesalahan. Belajar dari ketidaksempurnaan dan belajar dari kegagalan. Agar kita bisa menjadi manusia yang semakin bijaksana dalam menghadapi hidup, agar kita lebih bernilai. Dan memiliki pemahaman sempurna tentang nilai nilai kehidupan.

Sejatinya hidup adalah kemenangan juga kesempatan. Kemenangan akan sesuatu yang bernilai. Juga kesempatan atas sesuatu yang belum sempurna kita lakukan.

Apalagi yang membuat diri kita ragu? Untuk segera merelakan apapun yang telah terjadi dan yang tertinggal jauh di belakang. Kemudian kita bisa mencobanya kembali dengan kemampuan terbaik dari dirimu.

Semua hanya menyisakan kenangan juga pelajaran dan hikmah untuk kita, maka tidak perlu berlama lama mengingatnya.

Kita tidak sedang dalam persimpangan, kita hanya sedang berada dalam perlintasan. Maka tidak ada yang lebih bijak selain terus melihat ke depan, dan mungkin sesekali melihat spion, agar kita bisa menghindari kesalahan yang sudah tertinggal di belakang.

Selamat datang hidup yang baru,
Jadilah diri yang lebih bernilai…

25 Rabi’ul Akhir 1440 Hijriyah
Tangerang
Peron 03

Posted in Renungan | Tagged , , | Leave a comment

Cerita Sempurna

Sungguh tak ada lagi yang membuatmu takut pada takdir yang menjadi rahasia-Nya. Kau lebih sibuk menikmati hidup dengan karya karya yang ingin kau cipta. Lebih memilih mengalir saja bagai air sungai yang akan bertemu muaranya.

Kau tanpa sadar, lebih banyak menghabiskan waktu untuk merangkai cita. Mengusir segala gundahmu. Tak ada lagi rasa sesak di dada. Tak ada lagi rasa khawatir akan takdir yang masih menjadi rahasia. Tak ada lagi rasa letih karena hati yang tak pernah bisa berhenti mencipta peluang peluang yang entah terisi oleh harapan harapan senja.

Apa kabar hati? Yang dulu lebih banyak mengkhawatirkan rasa.
Apa kabar mata? Yang dulu lebih banyak menangis karena sesak di dada.
Apa kabar imajinasi yang dulu lebih banyak disibukkan dengan fatamorgana?

Melangkahlah dengan pasti…
Kita tidak pernah tahu takdir akan berakhir di mana,
Tapi kita bisa memilih untuk mengakhiri segala cerita dengan sempurna.

Kita dicipta untuk selalu Mengingat-Nya tanpa jeda,
Menjadi sebaik baik hamba-Nya
Menjadi sebaik baik manusia dengan pemahaman sempurna..
Karena hidup sejatinya adalah proyek kebaikan dan kemanfaatan diri…

Lalu, sudah sejauh apa kau melangkah dan menjejak cerita indah itu wahai diri?

Ampar

19 Rabiul Akhir 1440 Hijriyah

Posted in Renungan | Tagged , | 1 Comment

Sisa Waktu

Sinar lampu kereta yang menusuk mata
Dentingan lonceng kereta tua yang memekakkan telinga
Juga irama gerbong kereta tanpa atap yang melewati rel tanpa aba aba
Manusia manusia kereta yang bersandar pada tiang
Memejamkan mata dengan tarikan nafas dalam

Sungguh, malam telah membuat manusia menjadi lebih bijaksana

Ditatapnya keremangan malam dengan jeda
Langit pun berdamai dengan kondisi hati manusia
Meneduhkan…

Dan manusia gerbong kereta berdiri berjajar menanti bunyi peluit dari petugas peron
Berharap masih ada ruang kosong yang bisa membawa mereka pada tujuan
Meninggalkan tempat pemberhentian sementara
Menuju tempat pemberhentian sebenarnya…

Kapan kita mulai bersiap?
Sedangkan sisa waktu kita tinggal sebentar…

15 Rabiulawal 1440 Hijriyah
Gerbong Kereta
Duri

Posted in Renungan | Tagged , | 1 Comment

Cukup Hanya Karena Allah Saja

Ingin aku berlari ke pantai, kemudian berjalan di pesisir menikmati senja yang membuat imajinasi berkejaran dengan jeda. Jeda yang hanya sebentar saja.

Aku bahkan hanya diam menatap nanar sinar sinar Sang Mentari yang akan kembali keperaduannya.

Aku melihat bayang bayang jernih itu dipermukaan pasir yang bercampur air. Indah sekali…

Apakah kita mampu berjalan beriringan menatap kembali fajar esok hari? Tanyaku pada bayang bayang yang memalingkan wajahnya dariku.

Mengapa pula kau hanya berharap pada bayang bayang? Bukankah ia semu?, jawabanmu membuat aku tertampar juga tersadar.

Benar, bayang bayang tidak selamanya bersama dan menemani langkah langkahmu dalam menjalani hari sampai waktu dan jeda itu habis di makan zaman.

Apalagi yang kau takutkan? Kita hanyalah pengembara. Dan kita sedang mencari tempat kembali yang sebenarnya.

Apalagi yang perlu dikhawatirkan dari fatamorgana dunia ini? Apalagi yang kita cari? Sedangkan, akhirat yang abadi tak kita siapkan dengan sebaik baik bekal.

Iya, cukup hanya Allah saja yang akan mengisi hati dan hari harimu. Jangan biarkan hari hari berlalu tanpa terisi penuh dengan mengingat-Nya. Cukup Allah saja yang menjadi alasan kita bertahan dan kuat. Cukup hanya karena Allah saja, bukan yang lain.

Shafar 1439 Hijriyah

Ampar

Posted in Renungan | Tagged | Leave a comment

Kejayaan Islam

Kita memang butuh waktu sendiri. Bermuhasabah atas segala pencapaian dan juga niat terdalam kita dalam beramal.

Jika saja hati kita tetap terpaut Pada-Nya, maka takkan ada yang hambar dalam setiap perjalanan. Karena kehidupan selalu ajarkan tentang makna. Dan bahwa setiap makna itu menyimpan banyak hikmah yang membuat kita semakin bertambah dewasa.

Seperti pertemuan selalu dilengkapi dengan perpisahan. Pun sama seperti kejatuhan sebuah masa selalu dilengkapi dengan kejayaan. Jatuh maka harus segera bangkit lagi.

Tidak peduli seberapa banyak kamu terjatuh, yang paling penting adalah seberapa cepat kamu bangkit lagi.

Apalagi yang membuat pertemuan dan perpisahan itu indah selain kenangannya? Pun sama, apalagi yang membuat kejatuhan dan kejayaan menjadi indah selain sejarah dan hikmah yang menjadi pelajaran bagi tiap generasi ?

Kita berkejaran dengan waktu. Maka hal yang paling layak kita ciptakan adalah kenangan kenangan kebaikan pada setiap jejak perjalanan itu. Dan itu akan menjadi catatan sejarah terpenting bagi potongan puzzle tiap insan yang dipersembahkan bagi kejayaan Islam.

Kita memang perlu belajar untuk lebih berlapang dada pada semua hal yang terjadi dalam hidup ini. Tiap tiap kita punya ujian masing masing. Pun, tiap tiap zaman punya ujiannya sendiri.

Dan, tugas kita sekarang adalah berlomba dengan waktu, perbaikan diri jangan pernah berhenti. Tingkatkan kapasitas diri. Karena boleh jadi waktu hidup yang kita punya lebih pendek dari usia tercapainya kejayaan itu.

Berharap suatu saat kita akan menjadi bagian dari kejayaan Islam yang diimpikan.

Apakah kamu sudah siap?

5 Shafar 1439 Hijriyah

Posted in Gerakan | Leave a comment