Menjadi Pahlawan Mukmin Sejati

Apa kabarnya hari ini para Pahlawan, para mujahid dan mujahidah? semoga selalu baik, semangat dan tidak pernah bosan memberikan manfaat untuk orang lain.

Alhamdulillah, kita masih bisa berkesempatan untuk kembali bertemu, walaupun hanya melalui untaian kata yang tersusun rapi di layar smartphone-nya.

Izinkan saya, seorang pembelajar kehidupan untuk sharing kepada Sobat semua. Rasanya tak pantas, karena saya belumlah memiliki ilmu yang memadai.

Setidaknya, bagi diri saya yang lemah ini; ia berguna menjadi pengingat yang mencambuk jiwa. Umar ibn Al-Khaththab berpesan, “Hisablah dirimu, sebelum kelak amalmu yang diperhitungkan.”

Semoga menjadi perenungan kita bersama…

Sobat, krisis adalah takdir semua bangsa. Tidak perlu kita menyesali kehadirannya, apalagi sampai mengutuknya. Yang perlu kita pikirkan adalah kelangkaan pahlawan saat terjadinya krisis. Itu adalah tanda kehancuran sebuah bangsa.

Di tengah badai ini kita merindukan pahlawan itu. Pahlawan yang, kata Sapardi, “telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah”. Pahlawan yang kata Chairil Anwar, “berselempang semangat yang tak bisa mati.”

Apakah tak ada lagi wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak ada lagi ibu yang mau, seperti kata Taufiq Ismail di tahun 1966, “merelakan kalian pergi berdemonstrasi.. karena kalian pergi menyempurnakan..Kemerdekaan negeri ini.”

Sobat, pahlawan bukanlah orang suci yang turun dari langit ke bumi untuk menyelesaikan segala masalah manusia dengan kekuatan super atau mukjizat dengan cepat, kemudian ia kembali lagi ke langit.

Pahlawan adalah orang-orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam senyap yang panjang sampai waktu yang telah Allah tetapkan untuk mereka.

Sobat Flash, pernahkah terlintas dalam benak kita, untuk menjadi seorang pahlawan? atau kita tidak pernah berpikir sekalipun untuk menjadi seorang pahlawan? ( yah, saya mah cukup jadi orang biasa aja. Hidup udah susah bro, ga usah dibuat susah lagi dengan bersusah-susah ria memikirkan masalah orang lain, masalah umat. Masalah diri sendiri aja ga bisa menyelesaikannya). Upppssttt….

Na’udzubillah… semoga ga ada yang mikir begitu ya Sob…

Pernah dengar orang-orang hebat yang menjadi pahlawan ini Sob?

Usamah bin Zaid memimpin sebuah ekspedisi militer bersama tokoh-tokoh besar seperti Abu Bakar dan Umar, sedang usianya 19 tahun.

Harun Ar-Rasyid memimpin imperium raksasa yang terdiri atas tiga benua besar, yaitu Asia, Afrika dan Eropa, sedang usianya baru 22 tahun.

Anaknya Harun Ar-Rasyid, yaitu Al-Amin pernah juga memimpin pasukan besar di Khurasan lalu menang sedang umurnya masih 11 tahun.

Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel dan memenuhi mimpi 8 abad umat islam, pada usianya ke 23 tahun.

Sulaiman menjadi Sultan Daulah Utsmaniyyah di usianya yang ke-26 tahun, dan Eropa menggelarinya Sulaiman The Magnificent.

Imam Syafii menjadi guru besar umat di usianya yang ke-7 tahun.

Hasan Al-Banna mendirikan organisasi superbesar yang akhirnya menyebar di 70 negara, sedang usianya baru 22 tahun.

Jenderal Sudirman menjadi panglima besar Nusantara yang bergerilya di hutan saat usianya 25 tahun.

Sobat, para pahlawan bukan untuk dikagumi. Tapi untuk diteladani… dan inilah hal-hal yang perlu kita persiapkan untuk Menjadi Pahlawan Mukmin Sejati…

1. Naluri Kepahlawanan

Sobat, naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada di balik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.

Jika seseorang memiliki naluri kepahlawanan, ia tidak pernah takut dalam menghadapi tantangan. Ia siap dengan segala risiko dan konsekuensi yang akan dihadapi.

Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan.

Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar.

Apakah kita sudah memiliki naluri kepahlawanan? (cukup jawab dalam hati)

2. Keberanian

Keberanian adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang akan diterimanya.

Sobat, perhatikan ayat-ayat jihad dalam Al-Qur’an. Perintah ini hanya dapat terlaksana di tangan para pemberani. Cobalah perhatikan betapa Al-Qur’an memuji ketegaran dalam perang, dan sebaliknya membenci para pengecut dan orang-orang yang takut pada risiko kematian.

Apakah yang dapat kita pahami dari hadits
riwayat Muslim ini, “Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada di bawah naungan pedang?” Adakah makna lain, selain dari kuatnya keberanian akan mendekatkan kita ke surga? Maka, dengarlah pesan Abu Bakar kepada tentara-tentara Islam yang akan berperang, “Carilah kematian, niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan.”

Sudahkah kita memiliki keberanian Sob?

3. Kesabaran

Allah SWT dalam firman-Nya, “…Jika ada di antara kamu dua puluh orang penyabar, niscaya mereka akan mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir. ” (Al-Anfal: 65).

Sobat, Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita mampu membawa beban idealisme kepahlawanan, dan sekuat apa kita mampu _survive_ dalam menghadapi tekanan hidup. Mereka yang memiliki sifat ini pastilah berbakat menjadi pemimpin besar.

Kesabaran itu ibarat wanita yang melahirkan banyak sifat lainnya. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaran pula lahir kelembutan. Bukan hanya itu. Kemampuan menjaga rahasia juga lahir dari rahim kesabaran. Demikian pula berturut-turut lahir kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja, dan yang mungkin sangat penting adalah ketenangan.

Namun, Kesabaran itu juga pahit Sob. Sebagaimana hadits berikut ini, “Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saat kita mendapat ujian, cobaan, tantangan, musibah dll, apakah respon pertama kali yang kita keluarkan adalah sebuah rasa menerima, sabar, ikhlas dan tawakal akan segala ketentuan-Nya atau malah sikap tidak menerima dan menyalahkan takdir Allah.

Sob, para pahlawan mukmin sejati harus sabar dalam segala hal; sabar dalam ketaatan, meninggalkan maksiat, atau menghadapi cobaan. Dan dengan kesabaran tertinggi. Sebagaimana perkataan Ibnu Qayyim, “Sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya.”

Apakah sabar itu telah menghiasi akhlak kita, Sob?

4. Pengorbanan

Rasulullah saw berkata, “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”

Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran.

Maka, keempat makna dan sifat ini—rasa tanggung jawab keagamaan, semangat pengorbanan, keberanian jiwa, dan kesabaran. adalah rangkaian dasar yang seluruhnya terkandung dalam ayat-ayat jihad. Dorongannya adalah tanggung jawab keagamaan (semacam semangat penyebaran dan pembelaan). Hakikat dan tabiatnya adalah pengorbanan. Perisainya keberanian jiwa. Namun, nafas panjangnya adalah kesabaran.

Maka, benarlah apa yang dikatakan Sayyid Quthb, “Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.”

Syakib Arselan, pemikir Muslim asal Syiria, yang menulis buku Mengapa Kaum Muslimin Mundur dari Orang Barat Maju menjelaskan jawabannya
dalam kalimat yang sederhana, “Karena, orang-orang Barat lebih banyak berkorban dari pada kaum Muslimin. Mereka memberi lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum Muslimin bagi agamanya.”

Sekarang, mengertilah kita. Dan ketika ada pertanyaan, “Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan agama ini dalam kehidupan?” Maka jawabnya adalah hadirnya para pahlawan mukmin sejati yang tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain dan agama, serta mau mengorbankan semua yang ia
miliki bagi agamanya.

Apakah kita sudah siap berkorban untuk umat dan agama ini, Sob?

Semoga kita bisa belajar dan mempersiapkan diri menjadi pahlawan mukmin sejati.

Sebagaimana yang Ustadz Rahmat Abdullah pernah katakan, “Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Sumber :

Mencari Pahlawan Indonesia (Anis Matta)

Inilah Politikku (Muhammad Elvandi)

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jeda Serupa Senja

Kau sering bertanya bukan ? Pada siapa kau akan menceritakan seluruh kegelisahanmu ? Pada bahu siapa kau bisa menyandarkan dirimu ? Pada apa kau akan menumpahkan air matamu ? Pada siapa kau meminta nasihat-nasihat terbaik ? Pada siapa kau mencurahkan segala isi pikiran dan emosi jiwamu ?

Sungguh, Kau tak pernah sendiri. Bahkan ketika kau ditinggalkan oleh orang-orang yang menyayangimu dan kau pun amat menyayanginya. Sungguh, kita tak pernah benar-benar sendiri.

Di tempat yang paling sepi pun kau tak pernah sendirian. Bahkan ketika kau pergi ke penghujung dunia, pergi ke tempat terpencil, pergi ke pulau tak berpenghuni sekalipun, sejatinya, kau tak pernah sendiri.

Bukankah Allah selalu ada menemani kita, mengawasi tiap laku dan tindak kita, bukankah 2 malaikat-Nya selalu setia mendampingi kita ? Mencatat amalan-amalan kita, bahkan mencatat niat-niat yang terpatri dalam hati. Pada tiap alunan jarum jam yang tanpa henti berdetak tiap detiknya, sudahkah kita benar-benar menyadarinya atau kita hanya merasa sepi dan sendiri saat di keramaian ?

Mungkin kau hanya merasa sepi…

Merasa terasing di padang pasir…

atau merasa paling kecil di antara butiran pasir ?

Atau merasa terombang ambing di tengah lautan ?

atau merasa kerdil di tengah hutan belantara ?

Tenanglah…

Hanya karena kau tau, Allah akan selalu bersamamu. Bukankah Allah selalu dekat dengan kita ? bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri.

Hanya… apakah kita akan terus berjuang untuk selalu mendekat Pada-Nya. Melangkahkan kaki sehasta demi sehasta atau berlari tanpa henti Menuju-Nya ? Menjadikan tiap hal dalam hidup ini sebagai sarana terbaik untuk mendapat Ridho-Nya ?

Bukankah setiap waktu, fase hidup itu akan berganti ? pertemuan, perpisahan, kelahiran, kematian, kehadiran, kepergian, kebahagiaan, kesedihan, semua hanya siklus dari kehidupan dunia yang hanya sementara.

Toh sejatinya, kita hanya sedang melintasi jeda serupa kesempatan kedua, bukan ? Kesempatan kedua yang akan menentukan apakah kesendirian dan keterasingan itu akan membawa kita Pada keridhoan-Nya ?

Bahwa kehidupan adalah pembuktian kita Pada-Nya. Tabungan kita untuk kehidupan akhirat yang abadi.

Jika hidup di dunia hanya serupa senja, yang akan hilang ditutup hari. Maka, mengapa kita khawatir atas penilaian manusia? Yang seharusnya kita khawatirkan adalah iman, hati dan amalan amalan kita.

Jangan Jangan karena kita terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia, hingga lupa akan penilaian Allah yang lebih hakiki.

Maka, hidup adalah serupa jeda. Dan jeda adalah serupa senja. Seindah apapun, senja hanyalah sementara. Ia akan hilang di penghujung hari. Kita tak akan pernah bisa menahannya untuk tetap menemani. Ia akan lenyap bersama malam yang gelap.

Semoga, jeda itu selalu terisi penuh bekal untuk akhirat kita. Merajut ketaatan dan kebaikan pada tiap tiap kesempatan. Hingga Allah meridhoi jeda kita. Aamiin ya Rabb…

Ruang Kontemplasi

Ampar, 8 Jumadil Awwal 1439 Hijriyah

Posted in Renungan | Tagged , , | 6 Comments

Terkenal di Langit Allah

terkenal

Sungguh, setiap dari kita akan mengalami fase yang telah Allah gariskan dan rancang sedemikian rupa. Agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah untuk diri. Semoga menjadi uswah untuk keluarga dan umat ini. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain kan ?

Sungguh, aku takut sekali untuk tampil di publik. Entah sejak kapan rasa khawatir itu hadir. Aku hanya khawatir, jika ketenaran dan kepopuleran itu tidak bisa menjadi sarana terbaik untuk beribadah Pada-Nya. Lebih banyak mengkhawatirkan penilaian orang lain. Lebih banyak memikirkan komentar orang lain dibandingkan ibadah-ibadah kita yang tertuju Pada-Nya. Aku bahkan membayangkan akibat terburuknya, begitu amat menyiksa menjadi terkenal. Na’udzubillah…

Sungguh yang aku takutkan adalah ketenaran dan kepopuleran di dunia. Bukankah ujian populer di dunia itu lebih besar dan berat ujiannya daripada orang yang biasa-biasa saja (tidak populer) ? Terutama ujian lisan dan hati. Aku sangat khawatir, jika apa-apa yang aku katakan, belumlah aku lakukan. Aku sangat takut jika setiap perkataan dan perbuatan berubah niatnya, bukan lagi karena Allah…
Na’udzubillah Tsumma Na’udzubillah…

Sebagaimana Allah telah memperingatkan kita dalam Surat As-Shaf ayat 2 dan 3 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Sungguh, hanya Pada-Nya lah kita berharap untuk selalu diberikan hidayah, dijaga dalam ketaatan, dijauhkan dari keburukan dan hidup kita mejadi uswah untuk diri, keluarga, bangsa dan umat ini.

Jika aku boleh memilih, aku ingin menjadi hamba-Nya dibelakang layar pada setiap kebaikan yang membersamai. Aku hanya ingin menjadi hamba yang tidak terkenal di dunia ini, tapi terkenal di langit Allah, dibangga-banggakan Allah di hadapan para makhluk terbaik-Nya di langit. Sungguh, aku tidak butuh panggung ketenaran, jika itu semua menjauhkan diriku dari rahmat-Mu, ya Rabb.

Tapi sungguh, Allah sudah menuliskan fase hidup kita kan? Kita hanya pemain dari setiap skenario terbaik-Nya. Maka, yang bisa kita lakukan adalah memperbaharui niat setiap saat. Mengingat-Nya tanpa jeda dan meminta pertolongan-Nya. Agar Allah selalu membersamai pada setiap zeptodetik dan menjadi pemandu bagi seluruh indera kita dalam melakukan yang terbaik dalam hidup ini.

Karena hanya Pada-Nya lah kita bersandar. Sebaik-baik tempat meminta perlindungan, sebaik-baik tempat bergantung, sebaik-baik pemberi hidayah. Semoga Allah selalu memberikan rahmat-Nya, menuntun kita pada setiap fasenya. Agar kita selesaikan tugas sebagai khalifah fiil Ardh ini dengan niat dan usaha terbaik serta mendapat penilaian terbaik Dari-Nya. Aamiin Ya Rabb…

Menjadi Hamba yang Terkenal di Langit Allah

Rabi’ul Akhir 1439 Hijriyah
Ampar

Posted in Tentang aku | Tagged , , | Leave a comment

Jeda

jeda

Bukan karena jeda adalah waktu penantian semata. Tapi karena jeda adalah waktu perjuangan kita. Mengisi setiap zeptodetiknya hanya dengan ketaatan, kemanfaatan, kebaikan, dan tentu memberikan kemashlatan untuk diri, keluarga, bangsa dan bahkan untuk umat ini.

Agar jeda itu menjadi istimewa. Bukan hanya soal terkabulnya harapan, impian dan doa semata. Tapi, lebih jauh, tercipta dan terbentuknya kita sebagai seorang hamba yang sesuai dengan tujuan penciptaan-Nya. Menjadi sebaik-baik hamba. Menjadi khalifah fil Ardh.

Indah sekali jika setiap jeda yang kita punyai dimanfaatkan untuk menuju-Nya. Bukan semata soal pencapaian dunia. Tapi karena kita adalah seorang hamba yang berharap setiap zeptodetiknya bernilai ibadah di hadapan-Nya.

Karena jeda tak bedanya seperti perlintasan kita. Sama seperti kita sebagai makhluk yang akan terus berjalan menuju-Nya. Jeda seperti menunggu waktu itu tiba. Bukankah kehidupan akhirat itu akan sampai kepada kita, entah kapan waktunya. Hanya Dia-lah yang Maha Tahu dan menentukan Kuasa-Nya pada setiap takdir seorang hamba.

Maka, jeda serupa lintasan kita. Jeda serupa pilihan hidup. Memilih untuk menjadi seorang hamba dengan tujuan penciptaan-Nya yang sungguh mulia. Atau memilih kehidupan fatamorgana yang akan membuat kita menyesal telah menyia-nyiakannya. Na’udzubillah…

Alllah telah menyiapkan skenario terbaik untuk masing-masing hamba. Semoga kita tidak pernah bosan untuk berproses menjadi lebih baik tiap zeptodetiknya dan melakukan terbaik pada setiap fase hidup kita. Menjadi sebaik-baik hamba, khalifah fil Ardh. Semoga…

Senja merona, Ampar
21 Rabi’ul Akhir 1439 Hijriyah

Posted in Renungan | Tagged , | 1 Comment

Penjagaan Allah

1

Jika hati mudah sekali rapuh, mungkin iman kita yang mulai surut. Mudah sekali melakukan keburukan dan kemaksiatan. Dan tanpa sadar membuat kita terhanyut jauh dari Rahmat-Nya. Na’udzubillah…

Itulah kenapa, kita harus sering memperbaharui iman, bermuhasabah diri pada setiap waktu yang terus berjalan. Jangan biarkan ia usang, karena tak pernah diperbaharui pemiliknya.

Merendahkan diri serendah rendahnya di Hadapan-Nya. Meminta penjagaan terbaik-Nya. Menangis tersedu di atas sajadah penuh harap akan Jalan lurus-Nya.

Bukan karena kita manusia dengan Penciptaan-Nya yang sempurna, kemudian iman pun akan selalu sempurna sepanjang masa.

Tapi, karena kita manusia yang tidak luput dari khilaf yang masih diberikan hawa nafsu sepanjang usia. Jadikanlah hawa nafsu itu menjadi nafsul muthmainnah, nafsu yang baik. Yang ketika dibacakan ayat ayat-Nya bercucuran air mata kita. Yang ketika disebut Nama-Nya bergetarlah hati kita. Yang ketika akan melakukan kemaksiatan, ingatlah kita akan siksa pedih-Nya.

Benar… Hidayah itu bukan milik kita, tapi milik Allah semata. Maka, mintalah Pada-Nya agar kita selalu diberikan hidayah terbaik-Nya. Karena, sebaik-baik penjagaan adalah penjagaan Allah.

Jika masa depan akhirat saja kita abaikan, bagaimana mungkin Allah akan menemani dan menjaga kita yang lemah ini dalam setiap langkah hidup di dunia, yang hanya seperti jeda dalam perlintasan.

Karena hidup bukan sekadar untuk hidup. Tapi, hidup untuk memperjuangkan masa depan akhirat yang pasti dan abadi. Kita hanya berharap rahmat Allah terus membersamai hingga kita bisa melihat wajah-Nya. Walaupun, sungguh… Ibadah kita selama hidup di dunia takkan pernah cukup untuk membalas segala nikmat yang telah Allah berikan. Apalagi untuk melihat Wajah-Nya. Hanya ampunan dan Keridhoan-Nya lah yang menjadi harap kita.

Semoga tidak pernah bosan untuk terus memperbaharui iman

Malam 15 Jumadil Awwal 1439 Hijriyah
Ampar

Posted in Renungan | Tagged , | 4 Comments

Cinta Adalah Doa

Karena cinta bukan mengeja semata. Ia adalah perasaan yang harus ditempatkan tepat pada tempatnya. Agar tidak berujung pada sia-sia dan kecewa.

Cinta bukanlah perasaan bunga semata, ia adalah ungkapan dengan perbuatan. Kata cinta bukan kata-kata manis berupa janji-janji yang mungkin sekian persennya adalah bagai air yang menguap.

Cinta adalah doa. Memilih untuk menjaga jarak saat ijab itu belum terucap.

Itulah mengapa aku susah payah untuk tidak terpengaruh pada cinta-cinta lain yang hadir. Aku berusaha untuk mencintai-Nya sebelum mencintai yang lain.

Apakah aku tidak lelah ? Tentu aku lelah. Hampir-hampir saja terjatuh, jika bukan karena pertolongan dan bimbingan-Nya. Memilih bertahan dengan prinsip. Mengabaikan kehadiran manusia-manusia dengan segudang rasa.

Apakah aku dikatakan sombong ? Aku tak peduli. Yang aku peduli adalah, semoga Ia yang akan menjadi teman hidup dan imamku di dunia dan akhirat kelak, sedang berusaha sekuat tenaga untuk bisa lulus ujian Dari-Nya, hingga kita dipertemukan dan diikat dalam perjanjian yang mampu mengguncangkan arsy’ dan semoga hingga kita dikumpulkan di Surga-Nya bersama anak keturunan yang shalih-shalihah. Insyaallah

Karena doa adalah kekuatan, maka berdoalah.

Karena mendoakan adalah cara mencintai yang paling istimewa.

Sore Di GOR ampar

Desember 2017

 

Posted in Rasa dalam kata | Tagged , | Leave a comment

Jadilah Seperti Iskandaria

2

Bahwa seorang muslimah haruslah kuat kepribadiannya. Jadilah seperti Iskandaria yang kokoh menjadi ibu kota pemerintahan Mesir, kemudian kemegahannya menjadi decak kagum semua orang.

Kokohlah dalam beramal dan berjuang menjadi ibu terbaik bagi anak-anakmu dan juga melahirkan mujahid mujahidah dakwah. Agar setiap peranmu bagi Kejayaan Islam menjadi decak kagum para makhluk langit.

Bukan seberapa mewah pakaianmu di dunia, yang terpenting seberapa besar Pakaian taqwamu di hadapan Allah.

Kelak, Ia akan menilai setiap amalanmu sesuai dengan niat di hatimu.

Posted in Tentang aku | Tagged , | Leave a comment