Mengapa Perjuangan itu Sulit? karena Surga itu Manis

40

Sahabat, apa kalian tahu apa yang melandasi seseorang begitu semangat meski ia lelah, tetap memprioritaskan kepentingan orang lain di atas kepentingannya, tetap berjalan meski berbatu dan terjal, tetap memaksakan hadir meski ia sebenarnya tak bisa, tetap berbagi meski ia sedang mendapat musibah, tetap fokus meski diterpa banyak ujian, tetap ceria meski ia sedang bersedih, tetap berjuang meski sendirian? 

Jawabannya hanya satu. Karena Cinta. Karena cinta pada dakwah telah mengalahkan semua kesulitan yang hadir.

Tak peduli seberapa sulit rintangan yang dihadapi, ia tetap berjalan. Walau hanya sendirian, ia tetap berada di garda terdepan.

Alhamdulillah… Ya Rabb. Aku merasakan kembali semangat perjuangan itu. Teringat ketika masa kuliah dulu ditempa dengan berbagai daurah/pelatihan. Saat ini semangat perjuangan itu kembali muncul. Daurah untuk Santri Pesantren Bina Insan Kamil kelas Dirasah, Tahsin, Tahfidz dan bahasa Arab kembali menguatkan semangatku dalam berdakwah.

Karena setiap dari kita adalah da’i. Kita punya kewajiban dalam menyampaikan kewajiban syar’iat pada semua orang. Agar kebaikan itu bisa menjadi bola salju yang semakin jauh bergulir, ia akan semakin membesar. Begitu pun dengan dakwah, semakin banyak para Mujahid dakwah yang berjuang, semakin banyak yang terwarnai kebaikan dan dakwah pun akan semakin meluas.

Dan, aku melihat begitu banyak orang yang menginspirasi di sekitarku.

Banyak hikmah juga pelajaran yang didapatkan dari daurah selama 3 hari yang diadakan Pesantren Bina Insan Kamil.

Aku mulai paham, mengapa ada orang yang tidak pernah lelah dalam memperjuangkan kebaikan dan nilai-nilai dakwah. Beliau memikirkan banyak hal, dari mulai sistem pembelajaran di Pesantren hingga tentang pembiayaan pesantren yang digratiskan untuk para Santri.

Kami juga belajar, mengapa ada orang yang begitu semangat mengajarkan kami tentang Aqidah, Fiqh, Bahasa Arab dan Fiqh Sosial tanpa pamrih. Terbayang begitu banyak waktunya bersama keluarga yang tersita untuk mengajarkan kami ilmu dan pengetahuan, berbagi pengalaman hidup yang berharga, dan berbagi kebaikan yang tak bisa kita balas dengan materi. Karena materi bahkan takkan pernah cukup untuk menggantikan keikhlasan hatinya.

Aku bahkan tak pernah menyangka, masih ada orang-orang seperti mereka di zaman seperti ini. Zaman yang apa-apa serba materi.

Yang luar biasanya, bahkan mereka berwirausaha dalam penyediaan hewan Qurban sebagai sumber pembiayaan Pesantren. Sungguh, mulia. Membiayai dakwah dengan hasil wirausaha sendiri. Andai setiap dari kita berfikir seperti beliau. Mungkin Islam akan selalu berada pada puncak kejayaannya. Semoga Allah mengizinkan kita menjadi da’i yang kaya hati dan hartanya.

Mereka adalah para Ustadz kami yang luar biasa. Baru kali pertama aku melihat seorang Ustadz menangis. Ia menangis karena cintanya yang begitu besar pada agama ini, pada dakwah dan pada kader dakwah.

Aku bahkan tak bisa membendung lagi air mata, saat menuliskan rangkaian kata ini. Teringat kembali kata-kata beliau di malam terakhir daurah. Beberapa menit sempat terdiam,  karena menahan rasa yang bercampur baur dalam hatinya. Semoga Allah berikan kekuatan dan kesabaran pada para Guru kami. Dan, semoga  Allah berikan keberkahan, ridho  serta kebahagiaan dunia dan akhirat sebagai balasan atas keikhlasan dan pengorbanan mereka dalam dakwah ini.

Aku mulai paham sekali lagi. Dakwah tidak butuh banyak orang, jika mereka hanya jadi buih di lautan…

Mengajarkan banyak pelajaran hidup dan hikmah.

Tidak cukup hanya menjadi follower kebaikan saja, tapi kitalah yang harus menjadi penggerak dalam kebaikan itu.

Sahabat, masih ingatkah kita dengan hadits berikut ini? “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.”

Semoga hadits di atas menjadi penyemangat kita dalam mencapai impian, harapan, cita-cita yang telah kita tuliskan di lembaran-lembaran kertas buram itu, semoga akan tercapai satu persatu. Suatu saat nanti, saat impian kita menjadi nyata, apa yang dicita-citakan telah kita gapai. Kita tetaplah Mujahid dakwah.

Kapanpun, di manapun dan bagaimanapun kondisi kita, jangan pernah berhenti untuk berdakwah, menyampaikan kebaikan pada semua orang yang kita temui. Semoga usaha terbaik kita untuk dakwah, Allah nilai sebagai kebaikan dan pemberat amal di yaumil akhir. Semoga Allah mengumpulkan kita di surga-Nya. Aamiin…

15 Ramadhan 1437 H

Suatu siang yang meneduhkan.

Suatu siang yang meneduhkan.

Advertisements

About diahazzahrayan

Biarlah yang besar itu karyamu, bukan dirimu. Biarlah yang tinggi itu capaianmu, bukan hatimu_ Salim A Fillah
This entry was posted in Gerakan and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Mengapa Perjuangan itu Sulit? karena Surga itu Manis

  1. Sekar says:

    super sekali, buk diah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s