Narasi Besar Pemuda

Mari mainkan peran kita, menjadi pemuda yang banyak belajar, berlatih, membaca, berdiskusi, berbuat untuk umat, berani amar ma’ruf wa nahi munkar.

Bukan jadi pemuda yang sibuk dengan rasa dan roman picisan. Menghabiskan banyak waktu untuk membahas tentang hal yang sudah pasti, kemudian lebih banyak galau dan membuat lemah diri.

Kita bukanlah pemuda yang bangga dengan keturunannya, yang mengandalkan nama besar orang tuanya, kakek neneknya dan keturunannya sampai ke atas.

Tapi kita bicara tentang narasi besar pemuda hari ini. Mau seperti apa kita dikenang, tercipta dari seberapa besar peran kita hari ini.

Kita tidak sedang mengumpulkan deretan penghargaan dan decak kagum manusia. Tapi kita sedang berjuang, memperjuangkan visi misi hidup demi tegaknya Kalimat Allah di muka bumi ini.

Sudah seberapa banyak pengorbananmu untuk agama ini? Untuk kemenangan Islam dan peradaban? Mari merefleksi diri.

Kita sedang berlari, mengejar ketertinggalan. Kalah jauh dibandingkan pemuda zaman Rasulullah, yang orientasi hidupnya semata mata untuk Allah dan agama ini.

Semoga kita semakin semangat untuk mengakselerasi diri, agar hidup yang singkat ini bisa kita isi dengan visi misi agama ini.

Djayakarta,
Jumadil Akhir 1439 Hijriyah

Advertisements
Posted in Gerakan | Tagged , , | Leave a comment

Rinai hujan

Aku merindukan rinai hujan…
Seperti dulu…

Setiap kali gerimis di bawah langit biru
Aku memandang pada gelombang laut yang saling berkejaran

Atau aku memilih menetap di ruang kotak bersama tumpukan buku kehidupan.
Memandang datar pada rumput yang dibasahi bulir bulir air

Getar hati semakin menguat
Imajinasi tentang masa lalu kembali hadir bagai kilat

Kau akan berlama lama menatap rintik hujan
Dan kemudian tak sadar bulir di matamu juga ikut mengalir

Bukan karena kau menyesal akan hadirnya hujan
Itu karena kau amat bahagia
Bertemu hujan artinya bertemu kesempatan
Kesempatan untuk mengeja doa

Apa yang kau minta saat hujan kali ini?
Semoga kebaikan dan keberkahan Dari-Nya selalu menemani…

Malam, jati

Jumadil Akhir

Posted in Puisi | Tagged | Leave a comment

Beku

Entah sudah berapa purnama kau melalaikan target targetmu? Entah sudah sejauh apa mereka berlari? Sedang kau masih membeku bersama bongkahan es di hatimu.

Kau selalu saja sibuk dengan imajinasimu. Menerawang jauh pada proyeksi hidup masa lalu. Kau masih saja suka berandai, berharap sesuatu yang kau inginkan itu terjadi. Menjadi nyata dan berakhir bahagia versimu.

Kau masih saja sama. Seperti manusia kayu di tepian jalanan salju. Kaku dan tak seceria dulu.

Bahkan tak bergeming sedikit pun saat orang lain sudah berlari karena kedinginan. Kau tak takut membeku, apalagi takut pada dingin. Tak ada dalam kamusmu…

Kau lagi lagi hanya menatap tanpa kilatan cahaya, seperti cahaya yang terpancar karena ceriamu dulu. Namun, cahaya di matamu juga ikut tenggelam bersama es yang menutupi seluruh tubuhmu.

Kapan lagi matahari terbit? Panas itu bisa mencairkan kebekuan hatimu. Menjadikan kau dan makhluk tanah lainnya hidup kembali.

Kau tahu, Ia telah menunggumu di sebrang lautan sana. Tidakkah kau sedikit berempati padanya?

Ia tetap bertahan, menunggumu…
Tak pergi, walau kau memintanya pergi…
Tak pernah melupa, walau kau memintanya menghapus ingatannya tentangmu…

Lagi lagi, apa pedulimu?
Kau tak ahli mengemas hati
Kau hanya ahli membuat Ia menetap lama tanpa kepastian.
Membuatnya menerka hingga lelah, kemudian kita akan sama sama saksikan ia bertahan dengan keacuhanmu atau memilih pergi selamanya?

Malam Jati
16 Jumadil Akhir 1439 Hijriyah

Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

(Tak) Peduli

Peduli apa mereka tentangmu? Mereka hanya hadir sebentar, kemudian pergi. Tertawa, kemudian merasa dekat dan paling tahu dirimu.

Tidak ada yang benar benar tulus. Kecuali orang orang yang saling bersahabat dan mencintai karena-Nya.

Bukankah sudah berkali kali kau mendengar cerita mereka? Tidakkah kau ambil pelajaran?

Peduli apa tentang dirimu yang menepi di pinggir rel kereta api tua? Yang menunggu di kursi cat putih sambil menyaksikan aktivitas manusia?

Hatimu bahkan amat teguh kan? Bukan teguh, tepatnya kau sedang berjuang meneguhkan hati. Tak mempedulikan urusan urusan rasa tak penting versimu.

Kau lebih menyukai merenung di keramaian, kemudian menuliskannya pada deretan kata di notes mu.

Kemudian kau akan membacanya lagi, lagi dan lagi. Hingga kau merasa padanan katanya kau sukai.

Hai, aku bertanya padamu. “Apakah kau tak bosan menjalani semua ini?”

Kau jawab datar, “mengapa harus bosan? Sedangkan kita akan selalu menemukan kedamaian pada tiap langkah kita yang mendekat Pada-Nya ?”

Sekali lagi kau bilang, “peduli amat tentang orang orang yang menatapmu penuh tanda tanya, mungkin juga mereka telah berimajinasi tentang jawaban versi mereka sendiri. Merasa paling tahu tentang hidup orang lain.”

“Tak peduli.”

“Yang Jelas, aku punya tujuan hidup jelas. Hidupku hanya untuk Memenangkan-Nya bukan yang lain.” Jawabanmu tegas, Sambil menatap pada kereta yang baru saja tiba.

Menunggu kereta tiba
Ampar
15 Jumadil Akhir 1439 Hijriyah

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Yang Berat Itu Bukan Rindu

Bilang pada Dilan, yang berat itu bukan rindu pada manusia. Tapi… yang berat itu adalah istiqamah pada segala ketentuan Sang Pencipta.

Bukankah sudah ribuan kali mendengar ayat, hadits, motivasi dan quote tentang istiqamah? Tidakkah kita menyadari dan kemudian semangat melakukan kebaikan pada tiap langkah hidup yang menemani ?

Atau kita lebih suka menjadikan ayat dan hadits itu hanya pengantar tidur sementara? Kemudian lupa apa isinya.

Rasanya, kita terlalu berlemah-lemah pada diri. Memberikan banyak pemakluman dan kelonggaran pada rasa jenuh yang menyerang hampir setiap detik nafas kita.

Menjadikan alunan masa depan itu seperti merangkak tak tentu arah. Kita kehilangan pijakan atas rasa bosan yang selalu menggelayuti pada tiap sudut kehidupan.

Itulah mengapa aku mengatakan, yang berat itu bukan rindu pada manusia, tapi… Yang berat itu adalah Istiqamah pada setiap langkah hidup yang telah kita azzamkan untuk bertemu Dengan-Nya.

Istiqamah untuk berlari menuju-Nya. Bukan berhenti sesekali kemudian hanyut terbawa aliran air deras karena rinai hujan baru saja turun membasahi bumi.

Apakah ayat-ayat Cinta-Nya masih kurang menginspirasi diri kita? Hingga tidak menggerakkan hati dan pikiran untuk melakukan kebenaran dan kebaikan terus menerus tanpa henti?

Pernahkah kita dengar hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersikaplah yang lurus dan tetaplah dalam kebenaran. Dan ketahuilah, bahwasanya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat karena amal perbuatannya”. Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau, wahai Rasûlullâh?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk aku, hanya saja Allâh meliputi diriku dengan rahmat dan karunia-Nya.”

Tidakkah kita menyadarinya? Bersikaplah yang lurus dan tetaplah dalam kebenaran.

Dan sudahkah kita melakukan apa yang Rasulullah katakan ini?

“Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena hidup kita adalah serupa pembuktian. Maka, tak ada lagi alasan untuk berlemah-lemah dalam perjuangan. Bersikaplah yang lurus dan tetaplah dalam kebenaran.

Ampar tengah purnama
13 Jumadil Akhir

Posted in Renungan | Tagged , | 1 Comment

Hatimu Harus Tetap Lurus

Kehidupan yang kita lalui tak selalu penuh dengan kebahagiaan. Karena hidup tak melulu tentang hal menyenangkan.

Hidup di lingkungan yang tidak kita harapkan, dengan kondisi yang sungguh banyak tantangan. Kita harus meneguhkan Iman di dalam dada. Agar penjagaan Allah lah yang akan menemani langkah hidup kita.

Tak peduli begitu riuhnya kehidupan dengan topeng topeng kebaikan di sekeliling kita. Tapi, tak boleh ada yang berubah dari diri kita. Sedikit pun, jangan.

Tak peduli, sebegitu liciknya sekeliling kita. Tetap tak boleh ada yang berubah dari diri kita.

Tak peduli, sebegitu beratnya beban. Kita tak boleh berubah.

Hati harus tetap lurus. Kebaikan tak boleh tidak diperjuangkan. Karena, hati yang jernih lah yang akan menuntun kita untuk memahami hidup dengan benar.

Semoga kita sampai tujuan dengan penuh kebahagiaan. Agar harapan untuk menjadi hamba terbaik-Nya, yang Dicintai-Nya bukan sekadar angan-angan. Yang akan menjadi nyata di akhirat, kelak. Aamiin ya Rabb…

Walaupun sungguh, amalan kita bahkan takkan pernah cukup untuk membalas segala nikmat dan karunia-Nya. Apalagi berharap perjumpaan Dengan-Nya? Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan pada kita untuk menatap wajah-Nya.

Semoga bukan ilusi. Yang diikuti dengan perjuangan untuk benar-benar bertemu Dengan-Nya, kelak.

Posted in Renungan | Tagged , , | Leave a comment

Jangan Khawatirkan Takdir!

Apalagi yang perlu dikhawatirkan? Bukankah selama ini kita yang terlalu takut? Takut, kalau kalau Allah tak cukupi kebutuhan hidup kita.

Takut, kalau ternyata takdir yang kita harapkan tidaklah sesuai dengan kehendak-Nya.
Takut, kalau kita tidak begini, maka akan begitu.
Takut kalau kita tidak begitu, maka akan begini.
Takut kalau kita tidak begitu, maka akan begitu.
Takut kalau kita tidak begini, maka akan begini.

Maka, detik ini… Kita harus lantang katakan. Jangan Khawatirkan takdir. Karena yang perlu kita khawatirkan adalah amalan amalan kita di dunia, yang akan menjadi tiket masuk surga atau neraka?

Hanya Pada-Nya lah takut dan taat itu, bukan pada makhluk-Nya. Jangan sekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak pantas kita sandingkan Dengan-Nya. Karena tidak ada dzat lain yang bisa menandingi-Nya.

Cukup sudah kekhawatiran kita akan takdir. Karena keterbatasan kita, kelemahan diri dan sedikitnya ilmu tidak akan pernah bisa melampaui-Nya. Maka mengapa kita sibuk sekali mencegah sesuatu itu harus terjadi atau sebaliknya.

Sekuat apapun kita meminta takdir itu tidak bekerja atau bekerja sesuai ingin kita. Tapi, kita tidak akan pernah bisa. Takdir bekerja dengan caranya. Ia punya mekanisme terbaik bagi tiap tiap hamba.

Tak peduli, seberapa menyulitkan, menyakitkan, tidak menyenangkan, jika takdir itu telah memilih tempatnya. Maka ia akan bekerja dengan cara Terbaik-Nya.

Apalagi yang perlu dikhawatirkan atas takdir? Sedangkan ia begitu amat jelas bagi setiap hamba. Ada kebaikan pada tiap keputusan-Nya. Pada tiap coretan tinta-Nya di buku buku takdir itu. Percayalah!

Maka, mulailah sadari bahwa kita hanyalah hamba. Diciptakan untuk melakukan ibadah terbaik. Dan, hadir untuk menjadi khalifah fil Ardh, melakukan perbaikan di muka bumi ini.

Karena, bahkan amalan sepanjang hidup kita saja takkan pernah cukup untuk membalas karunia yang Diberikan Nya. Amalan amalan itu akan menjadi saksi di yaumil akhir, kelak. Jadi pemberat dalam Keridhoan-Nya, hingga perjumpaan Dengan-Nya adalah hadiah terindah bagi seorang hamba. Semoga kita berkesempatan menatap wajah Tuhan kita, berbincang Dengan-Nya.

Semoga hadirnya kita ke dunia ini, menjadi bagian dari perbaikan dan generasi terbaik bagi umat ini.

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment