Orang Kaya

kaya1

Indah sekali nasihat Imam Syafi’i ini, “Tidaklah seseorang dikatakan kaya sampai ia memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan seisi dunia. Dan hanya bisa dibayar dengan sesuatu yang ada di akhirat.”

Subhanallah… kita sering kali lupa akan hal ini. Lebih banyak meminta sesuatu yang mudah saja bagi Allah untuk memberikannya di dunia. Lebih banyak memandang kesuksesan hanya dari materi atau pencapaian di dunia semata. Padahal, kaya di mata Allah tentulah berbeda dengan kaya menurut penilaian manusia, yang memiliki pengetahuan dan pandangan terbatas.

Kadang kita tanpa henti mengejar sesuatu, yakin sekali bahwa apa yang kita targetkan adalah yang terbaik untuk kita. Kita kadang lupa mengajukan proposal yang kita tulis dengan rapi dan yakin itu Pada-Nya. Meminta agar setiap impian yang tertulis di proposal hidup itu menjadi nyata dan terkabul satu per satu.

Dan, saat yang paling berharga dalam hidup seorang hamba yaitu ketika dirinya menghajatkan segala sesuatu hanya pada Allah, terus-menerus tanpa henti.

Bukan meminta-minta benda-benda, wujud-wujud, sosok-sosok atau sesuatu yang bisa dibeli dengan harta. Permintaan yang paling berharga dan doa yang paling penting adalah “Ihdinas shiraathal mustaqiim”, jalan lurus, jalan pengabdian pada Allah yaitu jalan perjuangan yang tidaklah mudah ujiannya.

Maka, luruskan lagi pandangan kita tentang memaknai seisi dunia ini. Yang mahal itu bukanlah materi atau pencapaian dunia yang telah kita raih. Yang mahal itu adalah jalan lurus dan jalan pengabdian pada Allah. Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan seisi dunia. Hanya bisa dibayar dengan sesuatu yang ada di akhirat.

Maka, bersyukurlah atas nikmat hidayah-Nya. Allah naungi kita di jalan lurus-Nya dalam setiap langkah hidup kita. Dan, jangan pernah bosan untuk minta hidayah itu agar selalu membersamai dan kita bisa istiqamah di Jalan Lurus-Nya, hingga bumi menjadi saksi dalam pengadilan umat manusia, nanti.

Sore hari yang mendung,
3 Rabi’ul-Awwal 1439 Hijriyah

Advertisements
Posted in Renungan | Tagged , , , , | 2 Comments

Berjanjilah!

Berjanjilah untuk belajar dan membaca lebih banyak dari biasanya.

Berjanjilah untuk dzikir, shalat tahajjud, Dhuha, dan tilawah 1 juz setiap harinya.

Berjanjilah untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Berjanjilah untuk tawadhu pada setiap hal yang telah dilakukan.

Berjanjilah untuk menjadi yang terbaik di Hadapan-Nya pada setiap kesempatan yang Ia telah berikan untukmu.

Azzam itu harus semakin menguat dan memilih tempatnya sendiri…

Shafar 1439 Hijriyah

Posted in Tentang aku | Tagged , | Leave a comment

Mungkin yang Rapuh Itu Bukan Hati, Melainkan Iman

Benar sekali kata-kata anonim itu. Yang rapuh itu bukan hati, melainkan iman. Karena imanlah yang akan berdampak pada hal penting lainnya. Imanlah yang menjadi power dari segala hal dalam hidup kita.

Jadi petunjuk jalan, penerang dalam kegelapan. Yang bisa selamatkan kita pada hari pembalasan kelak di akhirat.

Dan imanlah penguasa hati kita sesungguhnya. Maka, sudahkah setiap harinya kita jaga iman dalam hati kita ? Memupuknya untuk semakin taat Pada segala ketentuan-Nya. Menatanya kembali jika ia berantakan, dan meluruskannya jika jalannya mulai berliku.

Imanlah yang akan menjaga kita pada lintasan yang benar. Menjadi pengarah jalan yang handal. Karena sebenarnya iman itu adalah cahaya kebenaran.

Maka, jangan biarkan imanmu rapuh. Bahkan, hancur karena kelalaian, karena kesombongan dan karena ketidakberdayaan kita dalam mengontrol hawa nafsu.

Jagalah Ia, layaknya kau menjaga hatimu. Karena sesungguhnya bukan hatimu yang rapuh tapi imanmu…

28 Shafar 1439 Hijriyah
Malam Kontemplasi
Ampar

Posted in Renungan | Tagged , , , , | Leave a comment

Sepotong Hati

33

Ada saat di mana ketika seseorang pergi dari hidupmu, Ia juga membawa sepotong hatimu. Akankah Ia kembali utuh? setelah kepergian itu?
Itulah alasannya mengapa sebaiknya hanya Allah saja yang seharusnya ada di hati kita. Karena ketika hati terisi penuh akan Cinta-Nya, maka Ia tidak akan terpengaruh pada kepergian sesuatu. Ia paham akan kebahagiaan sejati.
Karena setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan. Dan setiap yang dimulai akan ada akhirnya. Setiap apa yang kita lakukan akan ada balasannya. Kita akan berujung pada pemberhentian. Akhirat. 
Maka, jangan sia-siakan waktu muda. Sebelum hadirnya batas waktu penyesalan yang tak berarti lagi.
Siang Kontemplasi
20 Shafar 1439 Hijriyah
Posted in Rasa dalam kata | Tagged , | 2 Comments

Million Years Ago

listening musik

Pertama kali dengar lagu ini, langsung menyatu dengan hati. Lagu ini membuat kita merefleksi diri. Kalau kamu seorang muslim, pasti familiar banget ya sama hadits tentang usia muda. Saat hari akhir, kita akan ditanya, “digunakan untuk apa usia muda kita ?”. Jawaban apa yang sudah kita siapkan ? persiapannya adalah dengan amal kebaikan kita. Ga bisa tuh kita ngarang. hehe… Karena, Allah punya catatan lengkap hidup kita.

Nah… lagu ini juga jadi refleksi buat kaum muda.

Saat usia muda saya gunakan untuk apa waktu dan kesempatan yang ada ? Apakah akan berujung pada penyesalan ? Atau akan memberi kebermanfaatan ?

Biarkan hati yang menuntun pada keputusan yang akan kita pilih. Semoga kita memilih keputusan terbaik untuk melakukan hal-hal terbaik dalam hidup ini. Yang terpenting adalah Allah ridho atas segala hal yang kita lakukan. Dan, usia muda kita akan menjadi saksi di akhir nanti. Semoga menjadi pemberat amal ya…

Tetaplah menjadi baik dan terus memperbaiki diri. Shalih dan menshalihkan. 🙂
Semoga…

Lagu yang akan sering diputar sampai saya bosan 🙂

Million Years Ago

Produced : Adele & Greg Kurstin

[Verse 1]
I only wanted to have fun
Learning to fly, learning to run
I let my heart decide the way
When I was young
Deep down I must have always known
That this would be inevitable
To earn my stripes I’d have to pay and bare my soul

[Chorus 1]
I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who can’t stand the reflection that they see
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor
I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends, I miss my mother
I miss it when life was a party to be thrown
But that was a million years ago

[Verse 2]
When I walk around all of the streets
Where I grew up and found my feet
They can’t look me in the eye
It’s like they’re scared of me
I try to think of things to say
Like a joke or a memory
But they don’t recognize me now in the light of day

[Chorus 2]
I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who never became who they thought they’d be
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor
I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends, I miss my mother
I miss it when life was a party to be thrown
But that was a million years ago
A million years ago

Posted in Lirik Lagu | Tagged , , | Leave a comment

Pilihan Allah

Hidup adalah doa-doa panjang…

Untaian kata yang terapalkan dalam setiap sujud dan ruku’, semoga menjadi pemberat amal.

Doa doa itu akan menuju pengabulan. Kata Allah, “Mintalah Pada Ku, maka akan Aku kabulkan”.

Itulah indahnya hidup, dalam setiap pinta, Allah akan balas dengan pengabulan atau Allah ganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik dalam Pandangan-Nya. Adakah yang lebih baik pilihannya, selain pilihan Allah?

Indah sekali hidup ini, kita hanya perlu ikuti alurnya saja.

Bahagia, sedih, menangis, tertawa, menyesal, kecewa, adalah pelengkap saja. Yang terpenting adalah pemaknaan kita akan hidup, bagaimana mempersiapkan kehidupan abadi setelah kematian.

Kuncinya hanya sabar, ikhtiar, ikhlas dan shalat dengan sebaik baik pengharapan. Takdir sudah tertulis jauh sebelum kita dilahirkan, saat ruh ditiupkan. Maka, tak ada lagi hal yang membuat kita khawatir, jika hanya Allah saja yang menjadi tempat pengharapan tertinggi.

Dengan ayat ayat yang menggetarkan hati

Malam 19 Shafar 1439 Hijriyah

Posted in Renungan | Tagged , , , | Leave a comment

Ragu

Jika hati kami bukanlah milik kami, mengapa masih mengizinkan yang lain mengisinya? Bukankah Allah yang memiliki hati ini? Mengapa tak kau isi sepenuhnya hati ini dengan cinta yang sempurna hanya Untuk-Nya?

Mengapa kau izinkan keraguan dalam hatimu? Merampas semua pertahanan keimanan yang telah dibangun susah payah? Mengapa tak kau siapkan dirimu untuk KEMATIAN yang lebih butuh banyak persiapan?

Bukankah janji Allah itu pasti? Maka, mengapa kau masih saja meragukan-Nya?

Hapus rasa ragu itu dalam hatimu, melangkahlah dengan pasti.

Jangan lagi habiskan banyak waktu untuk kesia-siaan. Jika mereka saja sudah berlari untuk semakin mendekat Pada-Nya, mengapa kau masih saja bergulat dengan hati?

Berlombalah dalam kebaikan, senyap dalam munajat Pada-Nya, lebih banyak menangis di hadapan-Nya. Karena kekuatan kita adalah saat kita dekat Dengan-Nya.

Shafar 1439 H, Saat hujan di Kota Hujan

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment