Aku Merindumu

September ini adalah bulan engkau dilahirkan. Membuat ingatanku pada semua kenangan bersamamu kembali berputar dalam resonansi otakku. Imajinasi tentangmu kembali diputar ulang.

Hampir genap 5 tahun tanpa kehadiranmu, ayah.

Apa kabar ayah? Semoga Allah melapangkan dan menerangkan makammu. Semoga Allah Mengampuni segala dosa-dosamu dan memeliharamu sebagaimana engkau memelihara aku sewaktu kecil.

Allahumma Rabbighfirliy wali waalidayya warhamhuma kama rabbayaani shaghira…

Ayah, setiap kali mengingatmu. Rasanya dada ini sesak sekali. Sesak menahan rindu yang teramat dalam. Mataku berkaca, memanas menahan tumpahan air mata. Menarik nafas dalam dalam membuat sedikit tenang dan sesak itu mereda.

Aku sungguh merindumu…
Ingin menceritakan banyak hal padamu.
Aku ingin mengulang kembali kebersamaan bersamamu.

Ayah, aku masih mengingatnya dengan jelas saat Kau mengajakku ikut menemanimu menjadi reporter turnamen sepak bola tingkat kecamatan. Saat itu aku masih kelas 1 SMP. Kau memberikan kesempatan padaku untuk menjadi komentator. Padahal aku belum mengerti sepenuhnya tentang permainan yang disukai hampir oleh seluruh kaum adam di dunia.

Komentar terbata bata dengan susunan kalimat yang jauh dari kata sempurna terlontar begitu saja dariku. Aku harus mengelola rasa khawatir karena grogi dan keterbatasan kosakataku tentang permainan sepak bola. Terus bicara sambil melihat wajah ayah yang memperhatikan permainan dengan seksama. Sesekali ayah melihat wajahku dan memberikan isyarat kedua tangannya digerakkan, yang artinya ayah memintaku untuk terus berbicara. Berikan komentar pada permainannya, pada pemainnya, pada kekuatan dua klub, pada strategi, dan pada banyak hal tentang sepak bola.

Aku tahu, bicaraku masih jauh dari sempurna, perlu banyak dilatih. Tapi, ayah tidak pernah menertawakanku. Menjadi tandemnya saat jadi reporter, duduk disebelah kursinya, mirip seperti komentator-komentator di TV sepanjang permainan sepak bolak berlangsung.

Ah ya, aku berusaha berdiri tegak dan pandangan lurus meyakinkan. Berusaha sekuat tenaga agar percaya diri dan tidak membuat ayah malu sepanjang aku di samping ayah. Kau tahu ayah, aku selalu berusaha tampil terbaik jika bersamamu.

Aku merindumu…
Sungguh merindukan kebersamaan itu
Bercerita banyak hal, berdiskusi, berlatih bicara, berlatih berpendapat dan yang paling penting berlatih untuk bertahan dengan prinsip hidup.

Dan, kau tidak pernah sedikitpun memasang wajah kecewa jika aku belum berhasil memenuhi keinginanmu. Dan, kau pun tidak pernah memuji berlebihan jika aku berhasil melakukan sesuatu. Kau hanya tersenyum, kemudian melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Kau selalu mengajarkan kesederhanaan. Mensyukuri banyak hal dalam hidup ini. Semoga aku bisa meneladani banyak kebaikan dari dirimu, ayah. Semoga aku pun bisa jadi amal jariyah untukmu.

25 Dzulhijjah 1438 Hijriyah
Malam penuh rindu

Advertisements
Posted in Tentang aku | Tagged , | Leave a comment

Sudahkah Kita Mengingat-Nya pada Setiap Hembusan Nafas Kita?

Kau tahu, tempat yang aku suka adalah stasiun kereta dan gerbong kereta. Saat di kereta setiap orang punya waktu untuk merenungkan banyak hal, terutama tentang hidup.

Perlintasan yang singkat, mengingatkan kita pada kematian. Semoga kita juga tidak lupa untuk menyiapkan pembekalan.

Aku melihat satu persatu wajah insan gerbong kereta. Mereka sibuk dengan imajinasi, menikmati perenungan akan perjalanan hidup. Lebih banyak diam, kemudian menatap kosong pada sesuatu.

Kau tahu, kita punya banyak tempat untuk merenungkan, memikirkan, memahami tentang penciptaan dan segala hal yang terjadi dalam hidup ini. Di kereta, di stasiun, di angkutan kota, di jalan, di masjid, di atas jembatan, di taman, di laut, di danau, di cafe, di sekolah, di kampus dan Tempat tempat lain. Hanya satu kuncinya. Hati kita tetap terpaut Pada-Nya.

Bahwa hidup untuk bertaqwa Pada-Nya. Menjadikan setiap aktivitas kita bernilai Dihadapan-Nya. Jangan biarkan kesia-siaan memenuhi daftar buku catatan amalmu. Karena orang yang beruntung adalah orang yang setiap saat selalu mengingat Allah dan berusaha menjadi yang terbaik dan lebih baik hanya Untuk-Nya.

Isi hati dan harimu dengan kebaikan dan perbaikan. Tugas kita adalah menjadi shalih dan menshalihkan. Semoga Allah istiqamahkan kita di Jalan Terbaik-Nya.

Bismillaah…

Nasrumminallah wa fathun qariib…

Dzulhijjah 1438 Hijriyah

Suatu Malam, di perjalanan

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Ingatanmu Tentang Allah

IMG_20170806_160904

Bahkan namamu mungkin akan terhapus dalam ingatan orang lain. Yang terpenting adalah ingatanmu tentang Allah.

“Ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisa ayat 103)

Semoga Allah selalu mengingat dan menjagamu…

Posted in Renungan | Tagged , | Leave a comment

Azzam

21

Berhentilah menangis karena hal tak penting. Berjanjilah untuk tidak menangis karena hal apapun. Kecuali menangis Dihadapan-Nya. Cukup air matamu untuk menangisi dosa-dosa yang terlampau menggunung tinggi.

Cukup kau sibukkan diri  meminta ampun atas dosa-dosamu, sibukkan diri dengan taubat.
Bukankah hati hanya milik Allah? mintalah dikuatkan di atas agama-Nya. 
Bawalah perubahan kebaikan bagi sekitar, sudah waktunya ciptakan sejarahmu.
Bismillah…
Suatu Siang di bulan Dzulhijjah 1438 Hijriyah
Posted in Renungan | Tagged , , , | Leave a comment

Islam dan Masa Kejayaan Itu…

Islam dan Masa Kejayaan Itu

Islam bukanlah semata-mata suatu agama, tapi suatu pandangan hidup yang meliputi soal-soal politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Islam itu ialah sumber segala perjuangan atau revolusi itu sendiri, sumber dari penentangan setiap macam penjajahan; eksploitasi manusia atas manusia; pemberantasan kebodohan, kejahilan, pendewaan dan juga sumber pemberantasan kemelaratan dan kemiskinan. Islam tidak memisahkan antara keagamaan dan kenegaraan.  Nasionalisme hanyalah suatu langkah, suatu alat yang sudah semestinya di dalam menuju kesatuan besar, persaudaraan manusia dibawah lindungan dan keridhaan Ilahi. Sebab itu, Islam itu adalah primer.

 

Inilah patokan ajaran Islam:

1. Agama Islam menghormati akal manusia dan mendudukkan akal itu pada tempat yang terhormat serta agar manusia menggunakan akalnya untuk melakukan penelitian tentang keadaan alam.

2. Agama Islam mewajibkan pemeluknya (laki-laki maupun perempuan) menuntut ilmu.

“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. (Hadits Nabi)

3. Agama Islam melarang taklid (buta), menerima sesuatu sebelum diperiksa, walaupun datangnya dari kalangan sebangsa dan seagama atau dari ibu bapak dan nenek moyang sekalipun.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)

4. Agama Islam menyuruh memeriksa kebenaran, walaupun datangnya dari kaum yang berlainan bangsa dan kepercayaan.

5. Agama Islam memerintahkan pemeluknya pergi meninggalkan kampung halaman berjalan ke negeri lain, menyambung silaturahim dengan bangsa dan golongan lain, saling bertukar rasa dan pemandangan.

Wajib atas tiap-tiap muslimin yang kuasa, pergi sekurangnya sekali seumur hidupnya mengerjakan haji.

Pada saat itu terdapatlah pertemuan yang karib antara segenap bangsa dan golongan diatas dunia ini. Keadaan itu menimbulkan hubungan persaudaraan dan hubungan kebudayaan (akulturasi) yang sangat penting artinya untuk kemajuan tiap-tiap bangsa.

Telah ada suatu masa, yang negeri-negeri Islam menjadi pusat kebudayaan, menjadi sentral perhatian dunia. Kalau Mekah menjadi pusatnya ibadah, tempat kaum Muslimin naik haji menunaikan rukun Islam mereka, maka Bagdad pernah jadi pusat ilmu pengetahuan, tempat ulama-ulama berkumpul dari segenap penjuru untuk menambah ilmu pengetahuan mereka, yang akan mereka tebarkan di negeri mereka masing-masing.

Ibadah dan pengetahuan, keduanya sangat penting dalam Islam, keduanya dijunjung tinggi dan diamalkan oleh kaum Muslimin dengan ikhlas, terjauh dari ria dan takabur. Sesungguhnya mereka inilah yang menang.

Kapan kembalinya masa kejayaan itu, wahai pemuda Islam?

 

Natsir dalam Capita Selecta 1.

Posted in Hikmah "Buku" | Tagged , , , , , | Leave a comment

Kehilangan

Datang dan pergi adalah sunnatullah dalam hidup ini. Ada saatnya seseorang hadir dalam hidupmu, kemudian di saat yang lain ia pun harus pergi . Bukan karena ia benci kemudian ia memilih pergi. Tapi, karena takdirlah yang menjadi alasannya.

Bukankah takdir itu hak Allah? Maka kita hanya perlu berdamai. Berdamai dengan hati, agar ia tak menjadi kalah oleh rasa, kalah oleh kesedihan yang mengharu biru dalam hidupmu.

Bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai? Ditinggalkan selamanya. Takkan bisa menatapnya lagi, hanya bisa mendoakannya tanpa henti.

Bahwa kehilangan adalah fase di mana Allah Ingin melihat dan menguji seberapa besar cintamu Untuk-Nya? Apakah mencintai makhlukNya melebihi cinta Kepada-Nya? Semoga mencintai makhlukNya masih dalam bingkai cinta Kepada-Nya…

Jangan habiskan banyak waktu untuk kembali mengenang sesuatu yang telah pergi. Karena yang telah pergi takkan pernah kembali kan? Pun, jangan mati-matian untuk melupakannya. Karena, kenangan itu akan selalu hadir tanpa diminta.

Kita hanya perlu merapalkan doa pada setiap rindu yang hadir. Mengisi waktu untuk terus memperbaiki diri, menjadi hamba terbaik-Nya, beribadah terbaik dan mencintai-Nya dengan cinta yang sempurna.

Semoga dikumpulkan bersama orang-orang tercinta dan yang mencintai kita.

Aku yang merindumu…

Semoga aku bisa menjadi amal jariyah bagimu, Ayah.

Jalanan kota yang ramai

Pada Malam, 10 Dzul Qa’idah 1438 Hijriyah

Posted in Renungan | Tagged , , , | Leave a comment

Mintalah Pertolongan dan Penjagaan-Nya

Benar…

Jangan biarkan ia meluluhlantakkan perasaanmu.

Jangan biarkan, apa yang telah kau bangun hancur berantakan.

 

Bukankah, cinta Allah saja yang ingin kau harap?

Jangan biarkan nafsu dunia menguasai hatimu…

Dan kau jadi budak dari duniamu. Na’udzubillah…

 

Benar, kekuatan Allah lah yang menuntun kita…

Untuk berpegang teguh pada ketaatan di Jalan-Nya.

Bukankah, akhir setiap ujian itu adalah kebaikan?

Sabar…

Sabar…

Sabar…

 

Teruslah bertahan, mintalah pertolongan Pada-Nya.

Pada setiap waktu ijabah-Nya…

 

Jangan bosan untuk menangis di sepertiga akhir malam-Nya…

Bahkan, jika air matamu harus kering…

Lakukanlah…

Memintalah pertolongan dan penjagaan-Nya…

 

Karena sebaik-baik penolong dan tempat sandaran adalah Allahu Yaa Rabb…

Semoga Allah menuntun hati yang lemah ini, yang mudah sekali goyah hadapi ujian ketaatan, bahkan tak segan untuk menyerah saja, kalau bukan karena Pertolongan-Nya lah, Ia akan kuat…

Di sebuah ruang,

seorang hamba yang meminta penjagaan-Nya…

Pada malam perenungan, 21 Dzul Qai’dah 1438 H

Posted in Renungan | Tagged , , | 2 Comments